Kata Sapaan dalam Bahasa Gorontalo Menurut Kamus Bahasa Gorontalo
- account_circle S. Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Sel, 20 Jan 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar

Bahasa Gorontalo (BG) memiliki sistem kata sapaan yang sangat kaya dan mencerminkan nilai sosial, kekerabatan, serta cara pandang masyarakat terhadap hubungan antarindividu. Dalam Kamus Bahasa Gorontalo yang disusun oleh Dr. Mansoer Pateda, kata sapaan diperinci ke dalam beberapa kategori berdasarkan ciri fisik, status sosial, hubungan keluarga, hingga ikatan emosional.
Kata Sapaan Berdasarkan Ciri Fisik
Salah satu bentuk kata sapaan dalam Bahasa Gorontalo didasarkan pada warna kulit. Terdapat istilah kuni (kuning), puti (putih), dan ita (hitam). Dari dasar ini muncul sapaan seperti Maputi yang berarti “mak putih” dan Ka’ita yang merujuk pada “kakak yang berkulit hitam”. Penggunaan sapaan ini tidak bersifat merendahkan, melainkan sebagai penanda identitas yang diterima secara sosial.
Selain warna kulit, ukuran tubuh juga menjadi dasar pembentukan sapaan. Kata kiki berarti kecil dan da’a berarti besar, sehingga dikenal sapaan seperti Makiki (ibu yang bertubuh kecil) dan Pada’a (bapak yang bertubuh besar). Demikian pula tinggi badan menjadi acuan, dengan istilah tinggi, haya atau panja (tinggi atau panjang), serta pende (pendek). Dari sini lahir sapaan seperti Patinggi (bapak yang tinggi), Kahaya (kakak yang tinggi), dan Kapende (kakak yang pendek).
Kata Sapaan Berdasarkan Status Pernikahan
Dalam masyarakat Gorontalo, seseorang yang telah menikah akan memperoleh sapaan khusus. Untuk laki-laki digunakan kata temei dan untuk perempuan digunakan tilei. Sapaan ini diikuti oleh nama kemenakan, biasanya dari pihak laki-laki. Sebagai contoh, jika nama kemenakan adalah Dula, maka sang suami disapa Temei Dula dan istrinya disapa Tilei Dula.
Dalam bentuk kepemilikan atau pelaku, kata temei berubah menjadi lemei, sedangkan tilei berubah menjadi lilei. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam kalimat berikut:
Temei Dula wolilei Dula mai hamaa lemei Asi wolilei Asi to Hulondalo,
yang berarti, “Pak Dula dan Bu Dula akan datang dijemput Pak Asi dan Bu Asi di Gorontalo.”
Kata Sapaan Berdasarkan Urutan Kelahiran
Urutan seseorang di antara saudara juga menjadi dasar kata sapaan. Digunakan istilah satu (satu), dua (dua), tiga (tiga), tenga (tengah), dan wali (terakhir). Dari sini muncul sapaan seperti Pasatu (bapak yang pertama), Ti Tiga atau Mak Tiga (ibu anak ketiga), serta Maali (ibu yang terakhir).
Kata Sapaan Berdasarkan Keharusan Sosial
Beberapa kata sapaan bersifat wajib karena hubungan keluarga yang langsung. Sapaan ini antara lain Maama atau Naana untuk ibu, Paapa untuk ayah, Baapu atau Teete untuk kakek, Neene untuk nenek, Kaka untuk kakak, serta Taata untuk kakak perempuan. Sapaan-sapaan ini mencerminkan struktur kekerabatan yang kuat dalam masyarakat Gorontalo.
Kata Sapaan Berdasarkan Kasih Sayang
Selain sapaan formal dan struktural, Bahasa Gorontalo juga mengenal kata sapaan yang lahir dari rasa sayang. Untuk perempuan digunakan kata No’u, sedangkan untuk laki-laki digunakan Uuti dan Bagu. Sapaan ini umumnya dipakai dalam lingkungan keluarga atau hubungan yang sangat dekat.
Penutup
Kamus Bahasa Gorontalo karya Dr. Mansoer Pateda tidak hanya mencatat kosakata, tetapi juga memperlihatkan penggunaan kata sapaan tersebut dalam contoh kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa kata sapaan dalam Bahasa Gorontalo bukan sekadar panggilan, melainkan representasi nilai budaya, hubungan sosial, dan identitas masyarakat Gorontalo secara menyeluruh.
Sumber : Kamus Gorontalo Karya Dr. Mansoer Pateda
- Penulis: S. Ishaq, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar