Kenangan Sekolah Zaman Dulu di SDN 12 Tibawa
- account_circle S. Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Kam, 22 Jan 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar

Tibawa – Di Dusun Polia, yang kala itu masih bagian dari Desa Datahu sebelum mekar menjadi Desa Botumoputi, berdiri sebuah sekolah sederhana bernama SD Inpres 1 Datahu. Dari tempat inilah sejarah panjang SDN 12 Tibawa bermula sejak 1973.
Sekolah tersebut kemudian berubah nama menjadi SDN 3 Datahu pada 1998, berganti lagi menjadi SDN 2 Botumoputi pada 2009, hingga akhirnya resmi menyandang nama SDN 12 Tibawa sejak 2012 dan terus berjalan hingga kini.
Abu Luthfi, alumni lulusan 1998, masih mengingat jelas hari-hari awalnya bersekolah sejak 1992. Saat itu, sekolah dipimpin oleh Ibrahim Humonggio, lalu secara bergantian oleh Hasanah Abas, Hamka Tuna, Fatmah Misilu, Hamidun Rahim, Dewi Masita Isa, Marlin Luneto, hingga kini Asniaty Masionu.
Deretan guru yang pernah mengajar menjadi bagian penting dari ingatan kolektif para alumni. Mereka antara lain Fatma Laditji, Hartati Mohidin, Hanora Lantowa, Karsum Mukhsin, Raina Rauf, Hapasi Tomayahu, Nico Tuloli, Warsita Mohidin, Hadijah Poluli serta dua guru agama, Ibu Adnin Bunga dan Ibu Maryam Bilatula. Sementara itu, Pak Guru Musa dan Jhon Bayahu bertugas sebagai penjaga sekolah.
Bangunan sekolah kala itu masih berdinding beton, dengan bagian belakang setengah dinding dipasang kawat ram. Di ruang kelas, papan tulis hitam dan kapur putih menjadi alat utama pembelajaran, sekaligus simbol disiplin yang begitu kuat dirasakan siswa.
“Kalau dulu, siswa benar-benar takut dengan guru. Main saat pelajaran bisa kena lempar kapur atau mistar kayu. Mengadu ke orang tua pun sering berujung hukuman tambahan,” kenang Ishak.
Menjelang akhir pelajaran, kelas kerap mendadak hening. Murid-murid berlomba menjadi “patung”, duduk diam tanpa gerak, berharap menjadi yang pertama diizinkan keluar ketika bel pulang berbunyi.
Di luar kelas, kantin sekolah menyimpan kenangan manis tersendiri. Di sana dijual berbagai kue sederhana, salah satunya kue garo setusuk berisi tiga yang harganya hanya Rp 25, bersama beberapa kue tradisional lainnya yang selalu menjadi incaran saat jam istirahat.
Di balik ketegasan dan kesederhanaan itu, ada kebahagiaan yang paling ditunggu anak-anak yaitu tata boga atau yang akrab disebut “makan-makan”. Setiap akhir caturwulan, siswa membawa makanan dari rumah untuk disantap bersama.
Sebelum makan bersama, para siswa diwajibkan melaksanakan kerja bakti, memangkas rumput dan membersihkan halaman sekolah. Kebersamaan itu menumbuhkan nilai gotong royong yang membekas hingga dewasa.
Jam belajar dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 13.45, dengan kegiatan belajar mengajar berlangsung dari Senin hingga Sabtu. Hari-hari panjang itu menempa disiplin, membangun karakter, dan menanamkan rasa hormat kepada guru.
Kini, bangunan dan sistem pendidikan telah banyak berubah. Namun bagi para alumninya, SDN 12 Tibawa tetap hidup dalam ingatan sebagai ruang tempat kapur beterbangan, surat sakit dibacakan, kue Rp 25 dinikmati bersama, dan masa kecil yang tak pernah benar-benar pergi.
- Penulis: S. Ishaq, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar