Bupati Thariq Dorong Sekolah Surga Kasih Sayang Jadi Ekosistem Pendidikan Gorut
- account_circle Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GORUTNEWS.COM – Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, menekankan pentingnya penerapan konsep Sekolah Surga Kasih Sayang (SKS) sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan yang mengedepankan kepedulian, keharmonisan, dan kualitas hubungan antarseluruh warga sekolah.
Hal tersebut disampaikan Thariq saat membuka secara resmi Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) APBD Angkatan I jenjang SD dan SMP Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2026, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di KGTK Provinsi Gorontalo hingga 9 November 2026 itu diikuti 40 peserta dan dihadiri para kepala sekolah, koordinator wilayah, pengawas bina, serta jajaran terkait.
Dalam sambutannya, Thariq menjelaskan bahwa Sekolah Surga Kasih Sayang merupakan salah satu program unggulan pemerintah daerah yang dirancang untuk menghadirkan kualitas kehidupan pendidikan yang lebih baik.
Menurutnya, konsep SKS tidak sekadar menjadikan sekolah sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga sebagai lingkungan yang memberikan pengalaman adil, aman, nyaman, dan penuh kepedulian.
“Kenapa kita tidak menginstitusionalisasi surga? Mengapa surga kita tidak hadirkan, apalagi terhadap lembaga yang sangat sakral untuk kemanusiaan, yaitu pendidikan? Makanya kami merancang yang namanya Surga Kasih Sayang, Sekolah Surga Kasih Sayang,” ujar Thariq.
Ia menjelaskan, konsep SKS memiliki tiga pilar utama, yakni generasi mandiri berakhlak mulia, harmoni personal dan relasional, serta tata kelola dan sistem kelembagaan.
Ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membangun karakter peserta didik, memperkuat hubungan antarsesama warga sekolah, serta menciptakan tata kelola pendidikan yang adil dan bertanggung jawab.
Thariq mengungkapkan, gagasan Sekolah SKS lahir dari keprihatinannya terhadap sejumlah persoalan dalam lingkungan pendidikan, termasuk hubungan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, sesama guru, hingga kepala sekolah dengan guru.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap peserta didik dari tindakan yang dapat menimbulkan beban psikologis, termasuk perundungan dan perlakuan yang tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan.
“Kasih sayang itu tidak meniadakan disiplin,” tegasnya.
Menurut Thariq, kasih sayang harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti keadilan, perlindungan, kepedulian, keteladanan, dan tanggung jawab. Disiplin juga harus dibangun melalui contoh yang diberikan guru kepada peserta didik.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan tujuh elemen Sekolah SKS, yang mencakup sentuhan kepedulian, keamanan, keindahan, keharmonisan hubungan, keadilan, kenyamanan, dan kualitas.
Dalam penerapannya, Thariq menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang memanusiakan peserta didik. Guru diharapkan mengenali kondisi, memahami kebutuhan, serta mendengarkan pengalaman siswa sebelum mengambil tindakan.
Ia mencontohkan siswa yang mengantuk atau sering tidak masuk sekolah. Menurutnya, guru perlu mencari tahu latar belakang kondisi anak tersebut, bukan langsung memberikan teguran atau hukuman.
“Jadi artinya apa? Dari saling mengenal, membuka pengetahuan tentang keberadaan orang, memahami kebutuhan, memahami pengalaman,” ungkapnya.
Thariq juga menjelaskan bahwa harmoni di lingkungan sekolah bukan berarti tidak adanya konflik, melainkan kemampuan seluruh warga sekolah memahami dan menyelesaikan persoalan secara baik.
Pada bagian lain, ia menyampaikan bahwa konsep SKS akan diterjemahkan ke dalam sistem, ekosistem pendidikan, hingga pengembangan kurikulum.
Salah satu implementasinya melalui Kurikulum Muatan Lokal Tumula Lolipu, yang diarahkan untuk mengintegrasikan program daerah, seperti gerakan menanam, peternakan G210, Temani Laut, dan Jemput Takdir melalui penguatan literasi serta keterhubungan perpustakaan.
Melalui konsep tersebut, Thariq berharap sekolah di Gorontalo Utara tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi manusia yang mandiri, berakhlak mulia, dan menghargai sesama.
Ia menggambarkan tujuan Sekolah SKS melalui tiga prinsip utama, yakni sekolah yang indah dipandang, nyaman dirasakan, dan membanggakan untuk dijalani.
Penulis Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
Ibnu Ishaq, S.Pd.SD., Gr., C.VLD., C.SW adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan pada jurnalistik, penulisan, dan dunia website. Secara mandiri mengelola beberapa situs, di antaranya Tahuda.com, sebagai media berbagi informasi.



Saat ini belum ada komentar