Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
  • visibility 197
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah barisan bukit berbatu yang membentang di utara Gorontalo, berdiri sebuah dusun kecil bernama Putiana. Dari pemukiman sebagai jalan Trans Sulawesi penghubung utama dari Kota Gorontalo menuju Sulawesi Tengah tersaji panorama pegunungan yang seakan menari dalam kabut pagi. Udara sejuk memeluk dedaunan, dan sesekali terdengar suara embikan kambing atau lenguhan sapi yang menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan para petani di sana.

Warga Putiana adalah petani ulet yang menggantungkan hidup dari hasil kebun. Namun, di balik keheningan desa ini, tersembunyi satu kisah perjuangan yang mungkin tak akan dikenal banyak orang kisah tentang bagaimana sebuah sekolah bisa hadir di tengah keterisolasian, berawal dari dinding pitate dan atap rumbia, hingga menjadi sekolah negeri yang kini bernama SDN 16 Anggrek.

Kisah ini bermula dari seorang guru honorer bernama Saprin Lamusu, dan sebuah mimpi sederhana: agar anak-anak Putiana tak lagi harus berjalan kaki belasan kilometer ke desa tetangga Popalo di sebelah timur atau Ilangata di sebelah barat demi mengenyam pendidikan dasar.

Tahun 2008 adalah tahun penuh harapan. Pak Saprin dan istrinya, Yulyanti Nusa, pasangan muda dengan semangat mengabdi dan berencana mengabdikan diri di dunia pendidikan. Daripada menganggur di rumah, keduanya memutuskan untuk mendatangi Cabang Dinas Pendidikan Anggrek yang waktu itu dipimpin oleh Ibu Nur Alamri.

“Istri saya ingin mengajar di SMK Popalo. Tapi dari Bu Nur Alamri malah kami disarankan untuk mendirikan sekolah di Putiana saja,” kenang Pak Saprin.

Saran itu, yang bagi orang lain mungkin terasa seperti beban besar, justru diterima dengan tangan terbuka. Meski belum ada gedung, belum ada murid yang pasti, dan bahkan belum ada tanah resmi untuk lokasi sekolah, Pak Saprin dan istrinya mulai mendata anak-anak usia sekolah di sekitar Putiana.

Saat itu, Putiana masih menjadi bagian dari Desa Popalo. Maka setelah melakukan pendataan, Pak Saprin mendatangi Kepala Desa Popalo, Sudirman Pomalingo. Hasil musyawarah sederhana antara keduanya berujung pada satu kesepakatan: sekolah harus berdiri, bagaimana pun caranya.

Warga Putiana, yang sebagian besar adalah petani dengan penghasilan pas-pasan, patungan Rp 25.000 per kepala keluarga. Tak cukup untuk mendirikan bangunan permanen, tetapi cukup untuk membuat rangka sederhana dari kayu, dinding dari anyaman bambu (pitate), dan atap dari daun rumbia.

“Saya bahkan menggadaikan BPKB motor Honda Revo saya waktu itu,” kata Pak Saprin sambil tersenyum getir. Dana hasil gadai itulah yang digunakan untuk mengurus surat izin pendirian sekolah dan juga untuk pembayaran lahan.

Bangunan sekolah dengan ukuran 16×7 itupun pun berdiri di atas lahan. Ruangannya satu, dengan bangku-bangku panjang dari papan yang kaki-kakinya langsung dipatok ke tanah. Lantainya juga tanah. Jika musim hujan datang, halaman sekolah berubah jadi kubangan lumpur.

“Papan tulisnya cuma dari triplek, pakai kapur tulis. Meja guru, kursi guru, sama seperti meja murid, semuanya menancap di tanah,” kenang Nirmawati Asuwadi, salah satu alumni yang pernah merasakan belajar di sekolah itu pada masa awal.

Tahun 2009 datang secercah harapan baru. Bantuan dua ruang kelas dari pemerintah turun untuk SDN 1 Putiana, yang saat itu masih berstatus “kelas jauh” dari SDN 1 Popalo (sekarang SDN 2 Anggrek).

Namun, tantangan kembali muncul. Bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan belum lengkap. Rangka atap harus dibuat dari kayu mangrove, karena hanya itu yang tersedia dan bisa diakses. Tanpa sepengetahuan pihak berwenang, warga mengambil kayu tersebut.

“Sempat hampir dipukul tentara,” ujar Pak Saprin, “karena ternyata mereka tahu kami ambil kayu mangrove tanpa izin.”

Namun setelah menjelaskan bahwa kayu itu untuk pembangunan sekolah, para anggota TNI hanya memberikan teguran keras. “Mereka minta kami jangan ambil lagi tanpa izin. Tapi mereka juga paham perjuangan kami,” lanjutnya.

Pada Oktober 2009, sekolah sederhana itu diresmikan. Meski masih berdinding pitate, Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara saat itu, Indra Yasin (yang kemudian menjadi Bupati Gorontalo Utara), secara simbolis meresmikan sekolah yang lahir dari gotong royong warga dan keberanian seorang guru honorer.

Namun sekolah itu baru resmi menjadi SD Negeri yang definitif pada tahun 2012, di bawah kepemimpinan kepala sekolah pertama, almarhumah Lihawa Mobonggi. Setelah itu berturut-turut jabatan kepala sekolah diisi oleh almarhum Dauhan Gusasi, Abdul Rajak Rauf, almarhum Lahmudin Pakaya, dan kini Wisnawati Abubakar, S.Pd.

Menariknya, nama “SDN 1 Putiana” kemudian diganti menjadi “SDN 16 Anggrek” seiring reorganisasi nama-nama satuan pendidikan di Gorontalo Utara. Namun bagi warga, nama lamanya tetap hidup dalam ingatan.

“Saya merasa sekolah ini seperti anak sendiri. Lahir dari rahim kegelisahan,” ucapnya pelan.

Tak jarang, Pak Saprin berjalan kaki menyusuri dusun demi mencari anak yang tidak masuk sekolah. “Kadang mereka bantu orang tua di kebun, tapi saya selalu berusaha ajak mereka kembali ke kelas,” tambahnya.

Hingga kini, Pak Saprin masih berstatus sebagai tenaga honorer yang dibayar melalui dana BOS, Tapi itu tak menghalangi semangatnya.

“Saya bukan mengajar karena gaji. Saya mengajar karena anak-anak ini punya hak yang sama untuk belajar,” katanya.

Kini, SDN 16 Anggrek telah memiliki bangunan permanen, guru-guru tetap, dan fasilitas yang jauh lebih baik dibanding 17 tahun lalu. Tapi di balik semua itu, ada satu nama yang tak boleh dilupakan: Saprin Lamusu.

“Saya hanya berharap, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib guru-guru honorer seperti kami. Agar kami bisa terus mengabdi tanpa dihantui rasa khawatir soal masa depan,” tutupnya lirih.

Suara ayam berkokok dari kejauhan mengiringi senyumnya. Di matanya, terpancar kepuasan yang tak bisa diukur dengan nominal: kepuasan karena melihat anak-anak Putiana kini tak lagi berjalan jauh untuk sekolah. Karena mereka sudah punya tempat belajar sendiri berkat tekad, air mata, dan kerja keras seorang guru bernama Saprin Lamusu.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Terpopuler

  • Aksi Cepat Bintara Kesehatan TMMD Ke-126! Tangani Pemain Cedera di Tengah Laga Panas Desa Tonala

    Aksi Cepat Bintara Kesehatan TMMD Ke-126! Tangani Pemain Cedera di Tengah Laga Panas Desa Tonala

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Semangat sportivitas dan kemanunggalan TNI-Rakyat terwujud nyata di lapangan Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, di mana Turnamen Sepak Bola yang diselenggarakan oleh Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-126 Kodim 1315/Kabupaten Gorontalo berlangsung meriah namun tetap aman berkat kehadiran tim medis dari Satgas TMMD. Senin (20/10/2025). Bintara Kesehatan Satgas TMMD Ke-126, […]

  • Kodim 1304/Gorontalo Gelar Upacara Kenaikan Pangkat dan Purna Tugas

    Kodim 1304/Gorontalo Gelar Upacara Kenaikan Pangkat dan Purna Tugas

    • calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Gorutnews.com – Kolonel Arm Asep Ridwan, S.H., M.Han memimpin langsung Upacara Korps Raport Kenaikan Pangkat dan pelepasan purna tugas di Aula Makodim 1304/Gorontalo pada Rabu (16/4). Acara ini dihadiri oleh Ketua Persit KCK Cabang XVI, para Danramil, Perwira Seksi, dan perwakilan anggota. “Kenaikan pangkat bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kerja keras dan pengabdian. Semoga ini […]

  • Sekolah Rakyat Butuh 5.127 Tenaga Kependidikan, Cek Info Lengkap

    Sekolah Rakyat Butuh 5.127 Tenaga Kependidikan, Cek Info Lengkap

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 172
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA Jalan Salemba Raya Nomor 28 Jakarta Pusat 10430 Telp. 021-3103591 Ext. 2334 Fax. 021-31906861 Laman: https://www.kemensos.go.id PENGUMUMAN NOMOR : 1996/1/KP.01.01/06/2026 TENTANG SELEKSI PENGADAAN PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA (PPPK) UNTUK TENAGA KEPENDIDIKAN (TENDIK) PADA SEKOLAH RAKYAT DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2026 Menindak lanjuti Proyek Strategis Nasional (PSN) dan […]

  • Dari Radio Tua Menuju Portal Pendidikan Digital Gorut

    Dari Radio Tua Menuju Portal Pendidikan Digital Gorut

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 263
    • 0Komentar

    GORUT – Ruang sederhana di rumah seorang guru di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 30 April 2026, menjadi saksi lahirnya website pendidikan digital bernama lensaguru.com yang resmi dirilis oleh S. Ishak, S.Pd. Pria yang di kalangan wartawan akrab disapa Ibnu atau Abu Luthfi itu dikenal sebagai pengajar di SDN 16 Anggrek sekaligus wartawan media Bitungnews.id. […]

  • Ervina Muslim Bawa SDN 14 Tibawa Semarakkan Festival Apangi Di Desa Tolotio Play Button

    Ervina Muslim Bawa SDN 14 Tibawa Semarakkan Festival Apangi Di Desa Tolotio

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 103
    • 0Komentar

    GORUTNEWS.COM, TIBAWA – Kepala SDN 14 Tibawa, Ervina Muslim, S.Pd, memimpin langsung keikutsertaan sekolah yang dipimpinnya dalam Festival Apangi 2026 yang digelar di Jalan Djalaludin Tantu, Dusun Sakulati, Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Sabtu malam (4/7/2026). Stan SDN 14 Tibawa menempati posisi strategis di pintu masuk utama kawasan festival sehingga menjadi salah satu lokasi […]

  • Mom Squad Gelar Arisan di Pemandian Polondanga Play Button photo_camera 3

    Mom Squad Gelar Arisan di Pemandian Polondanga

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 171
    • 0Komentar

    ISIMU, Gorutnews.com – Komunitas Mom Squad menggelar kegiatan arisan bersama di Pemandian Polondanga pada Kamis (9/1/2025) sore hingga malam sebagai ajang mempererat kebersamaan antaranggota sekaligus mengisi waktu libur keluarga. Salah satu anggota Mom Squad, Iwin Moonti, menyampaikan kegiatan tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 20.00 dan diikuti para ibu rumah tangga dari berbagai desa di […]

expand_less