Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Pendidikan » Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
  • visibility 79
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah barisan bukit berbatu yang membentang di utara Gorontalo, berdiri sebuah dusun kecil bernama Putiana. Dari pemukiman sebagai jalan Trans Sulawesi penghubung utama dari Kota Gorontalo menuju Sulawesi Tengah tersaji panorama pegunungan yang seakan menari dalam kabut pagi. Udara sejuk memeluk dedaunan, dan sesekali terdengar suara embikan kambing atau lenguhan sapi yang menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan para petani di sana.

Warga Putiana adalah petani ulet yang menggantungkan hidup dari hasil kebun. Namun, di balik keheningan desa ini, tersembunyi satu kisah perjuangan yang mungkin tak akan dikenal banyak orang kisah tentang bagaimana sebuah sekolah bisa hadir di tengah keterisolasian, berawal dari dinding pitate dan atap rumbia, hingga menjadi sekolah negeri yang kini bernama SDN 16 Anggrek.

Kisah ini bermula dari seorang guru honorer bernama Saprin Lamusu, dan sebuah mimpi sederhana: agar anak-anak Putiana tak lagi harus berjalan kaki belasan kilometer ke desa tetangga Popalo di sebelah timur atau Ilangata di sebelah barat demi mengenyam pendidikan dasar.

Tahun 2008 adalah tahun penuh harapan. Pak Saprin dan istrinya, Yulyanti Nusa, pasangan muda dengan semangat mengabdi dan berencana mengabdikan diri di dunia pendidikan. Daripada menganggur di rumah, keduanya memutuskan untuk mendatangi Cabang Dinas Pendidikan Anggrek yang waktu itu dipimpin oleh Ibu Nur Alamri.

“Istri saya ingin mengajar di SMK Popalo. Tapi dari Bu Nur Alamri malah kami disarankan untuk mendirikan sekolah di Putiana saja,” kenang Pak Saprin.

Saran itu, yang bagi orang lain mungkin terasa seperti beban besar, justru diterima dengan tangan terbuka. Meski belum ada gedung, belum ada murid yang pasti, dan bahkan belum ada tanah resmi untuk lokasi sekolah, Pak Saprin dan istrinya mulai mendata anak-anak usia sekolah di sekitar Putiana.

Saat itu, Putiana masih menjadi bagian dari Desa Popalo. Maka setelah melakukan pendataan, Pak Saprin mendatangi Kepala Desa Popalo, Sudirman Pomalingo. Hasil musyawarah sederhana antara keduanya berujung pada satu kesepakatan: sekolah harus berdiri, bagaimana pun caranya.

Warga Putiana, yang sebagian besar adalah petani dengan penghasilan pas-pasan, patungan Rp 25.000 per kepala keluarga. Tak cukup untuk mendirikan bangunan permanen, tetapi cukup untuk membuat rangka sederhana dari kayu, dinding dari anyaman bambu (pitate), dan atap dari daun rumbia.

“Saya bahkan menggadaikan BPKB motor Honda Revo saya waktu itu,” kata Pak Saprin sambil tersenyum getir. Dana hasil gadai itulah yang digunakan untuk mengurus surat izin pendirian sekolah dan juga untuk pembayaran lahan.

Bangunan sekolah dengan ukuran 16×7 itupun pun berdiri di atas lahan. Ruangannya satu, dengan bangku-bangku panjang dari papan yang kaki-kakinya langsung dipatok ke tanah. Lantainya juga tanah. Jika musim hujan datang, halaman sekolah berubah jadi kubangan lumpur.

“Papan tulisnya cuma dari triplek, pakai kapur tulis. Meja guru, kursi guru, sama seperti meja murid, semuanya menancap di tanah,” kenang Nirmawati Asuwadi, salah satu alumni yang pernah merasakan belajar di sekolah itu pada masa awal.

Tahun 2009 datang secercah harapan baru. Bantuan dua ruang kelas dari pemerintah turun untuk SDN 1 Putiana, yang saat itu masih berstatus “kelas jauh” dari SDN 1 Popalo (sekarang SDN 2 Anggrek).

Namun, tantangan kembali muncul. Bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan belum lengkap. Rangka atap harus dibuat dari kayu mangrove, karena hanya itu yang tersedia dan bisa diakses. Tanpa sepengetahuan pihak berwenang, warga mengambil kayu tersebut.

“Sempat hampir dipukul tentara,” ujar Pak Saprin, “karena ternyata mereka tahu kami ambil kayu mangrove tanpa izin.”

Namun setelah menjelaskan bahwa kayu itu untuk pembangunan sekolah, para anggota TNI hanya memberikan teguran keras. “Mereka minta kami jangan ambil lagi tanpa izin. Tapi mereka juga paham perjuangan kami,” lanjutnya.

Pada Oktober 2009, sekolah sederhana itu diresmikan. Meski masih berdinding pitate, Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara saat itu, Indra Yasin (yang kemudian menjadi Bupati Gorontalo Utara), secara simbolis meresmikan sekolah yang lahir dari gotong royong warga dan keberanian seorang guru honorer.

Namun sekolah itu baru resmi menjadi SD Negeri yang definitif pada tahun 2012, di bawah kepemimpinan kepala sekolah pertama, almarhumah Lihawa Mobonggi. Setelah itu berturut-turut jabatan kepala sekolah diisi oleh almarhum Dauhan Gusasi, Abdul Rajak Rauf, almarhum Lahmudin Pakaya, dan kini Wisnawati Abubakar, S.Pd.

Menariknya, nama “SDN 1 Putiana” kemudian diganti menjadi “SDN 16 Anggrek” seiring reorganisasi nama-nama satuan pendidikan di Gorontalo Utara. Namun bagi warga, nama lamanya tetap hidup dalam ingatan.

“Saya merasa sekolah ini seperti anak sendiri. Lahir dari rahim kegelisahan,” ucapnya pelan.

Tak jarang, Pak Saprin berjalan kaki menyusuri dusun demi mencari anak yang tidak masuk sekolah. “Kadang mereka bantu orang tua di kebun, tapi saya selalu berusaha ajak mereka kembali ke kelas,” tambahnya.

Hingga kini, Pak Saprin masih berstatus sebagai tenaga honorer yang dibayar melalui dana BOS, Tapi itu tak menghalangi semangatnya.

“Saya bukan mengajar karena gaji. Saya mengajar karena anak-anak ini punya hak yang sama untuk belajar,” katanya.

Kini, SDN 16 Anggrek telah memiliki bangunan permanen, guru-guru tetap, dan fasilitas yang jauh lebih baik dibanding 17 tahun lalu. Tapi di balik semua itu, ada satu nama yang tak boleh dilupakan: Saprin Lamusu.

“Saya hanya berharap, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib guru-guru honorer seperti kami. Agar kami bisa terus mengabdi tanpa dihantui rasa khawatir soal masa depan,” tutupnya lirih.

Suara ayam berkokok dari kejauhan mengiringi senyumnya. Di matanya, terpancar kepuasan yang tak bisa diukur dengan nominal: kepuasan karena melihat anak-anak Putiana kini tak lagi berjalan jauh untuk sekolah. Karena mereka sudah punya tempat belajar sendiri berkat tekad, air mata, dan kerja keras seorang guru bernama Saprin Lamusu.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aturan Terbaru 2026: Transformasi Karakter Melalui Upacara Bendera

    Aturan Terbaru 2026: Transformasi Karakter Melalui Upacara Bendera

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Pemerintah resmi menerbitkan aturan baru mengenai kewajiban pelaksanaan upacara bendera di seluruh sekolah dan satuan pendidikan keagamaan. Kebijakan ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat karakter murid di Indonesia melalui penanaman kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Landasan Hukum dan Waktu Pelaksanaan Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Bersama (SEB) antara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri […]

  • Pratu Loppies Gelar Komsos Bersama Aparat Desa Pulohenti

    Pratu Loppies Gelar Komsos Bersama Aparat Desa Pulohenti

    • calendar_month Sabtu, 1 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Gorutnews.com – Pratu Alvian Loppies, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Pulohenti, menggelar komunikasi sosial (Komsos) bersama aparat desa pada Jumat, 27 Februari 2025. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Pulohenti, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara TNI dan pemerintah desa dalam mendukung keamanan serta pembangunan wilayah. Dalam pertemuan tersebut, Pratu Loppies […]

  • Perjalanan Oasis Band, Dari Ember Band Hingga Menjadi Kebanggaan Orang Isimu

    Perjalanan Oasis Band, Dari Ember Band Hingga Menjadi Kebanggaan Orang Isimu

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Gorutnews.com – Band lokal asal Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo yang bernama Oasis (Orang Asli Isimu) telah menulis sejarah unik dalam perjalanan bermusik mereka. Band yang beranggotakan enam pemuda asli Sentral Isimu ini terdiri dari Wawan (vokal), Adin (lead gitar), Yasin (basis), Eki (drummer), Dedi (keyboard), dan Syaril (gitar 2/vokal). Cikal bakal Oasis Band bermula dari […]

  • Download Buku Kurikulum Merdeka Kelas 1 SD/MI PDF Lengkap

    Download Buku Kurikulum Merdeka Kelas 1 SD/MI PDF Lengkap

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle S. Ishaq, S.Pd.SD
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Pusat Kurikulum dan Perbukuan melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terus mendorong penerapan Kurikulum Merdeka dengan menyediakan buku teks pelajaran yang selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar. Buku-buku ini dirancang untuk mendukung pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada peserta didik. Pengembangan Kurikulum Merdeka mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 958/P/2020 […]

  • Pemerintah membuka jalur alternatif bagi tenaga honorer yang belum berhasil dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2024

    Peluang Baru Honorer! Pemerintah Siapkan Skema PPPK Paruh Waktu

    • calendar_month Kamis, 19 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 47
    • 0Komentar

    JAKARTA (Gorutnews.com) – Pemerintah membuka jalur alternatif bagi tenaga honorer yang belum berhasil dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2024. Melalui skema PPPK Paruh Waktu, mereka tetap berpeluang menjadi bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN). Skema ini diatur secara resmi dalam Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025. Dalam beleid tersebut, PPPK […]

  • KPU Gorontalo Utara Gelar Rapat Koordinasi Evaluasi Pelayanan Pindah Memilih

    KPU Gorontalo Utara Gelar Rapat Koordinasi Evaluasi Pelayanan Pindah Memilih

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Gorut News – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gorontalo Utara menggelar Rapat Koordinasi Evaluasi Pelayanan Pindah Memilih dan Persiapan Penetapan Pemilih untuk Pemilihan Umum Tahun 2024. Rapat yang berlangsung selama dua hari ini akan diselenggarakan pada 10-11 November 2024 di Jawal Teratai, Hotel Damhil Kota Gorontalo. Berdasarkan surat undangan nomor 210/PL.02.1-Und/7505/2024, rapat koordinasi ini akan […]

expand_less