Kenapa 10 Muharam Disebut Bulan Pertolongan? Ini Penjelasan Ustaz Poniman Kadir di Festival Apangi Desa Datahu
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- visibility 103
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GORUTNEWS.COM, GORONTALO – Rangkaian Festival Apangi dan Kue Tradisional dalam rangka memperingati 10 Muharam 1448 Hijriah di Lapangan Mangga Dua, Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, ditutup dengan khidmat lewat tausiah keagamaan yang disampaikan oleh Ustaz Poniman Kadir, Rabu (1/7/2026) malam.
Penceramah yang akrab disapa Ustaz Nu’man ini mengingatkan ratusan jemaah yang hadir bahwa momentum Hari Asyura atau 10 Muharam merupakan simbol agung datangnya pertolongan Allah SWT kepada para nabi dan orang-orang beriman sejak zaman dahulu.
“Sepuluh Muharram ini adalah bulan pertolongan. Allah yang dahulu menolong para nabi terdahulu, itulah Allah yang sama yang kita sembah hari ini. Tidak ada pergantian. Pertolongan Allah kepada para nabi itu akan terus berlanjut kepada umat Rasulullah SAW yang beriman,” ujar Ustaz Poniman di hadapan lautan jemaah yang memadati lokasi festival.
Kilas Balik Sejarah Besar Para Nabi di Hari Asyura
Dalam ceramahnya, Ustaz Poniman mengulas kembali berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi tepat pada tanggal 10 Muharam. Salah satunya adalah kisah diselamatkannya Nabi Nuh AS dari banjir dahsyat yang menenggelamkan dunia.
“Kapal Nabi Nuh kemudian berlabuh di Bukit Judi sebagai bentuk pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang beriman,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga memaparkan kisah haru Nabi Adam AS yang dipertemukan kembali dengan sang istri setelah terpisah selama 40 tahun, serta mukjizat Nabi Ibrahim AS yang diselamatkan dari kobaran api besar.
Peristiwa besar lainnya yang ia angkat adalah kemenangan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun yang ditenggelamkan di laut, hingga kisah Nabi Yunus AS yang berhasil keluar dari perut ikan setelah berbulan-bulan terperangkap.
“Semua itu adalah bukti nyata bahwa Allah selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman, sesulit apa pun kondisinya,” tutur Ustaz Poniman.
Pintu Tobat Masih Terbuka Lebar
Lebih lanjut, Ustaz Poniman mengingatkan umat muslim yang hadir untuk tidak menyia-nyiakan momentum bulan Muharam. Selama ajal belum menjemput, kesempatan untuk berbenah diri dan memohon ampunan masih terbuka lebar.
“Selama nyawa kita belum sampai di tenggorokan, pintu tobat masih terbuka. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk meminta pertolongan Allah agar dosa-dosa kita diampuni,” ungkapnya.
Jaga Persatuan Melalui Momentum Festival Apangi
Di penghujung tausiahnya, sang ustaz mengaku bersyukur melihat indahnya kebersamaan warga di Festival Apangi malam itu. Menurutnya, berkumpulnya warga dari Desa Datahu dan desa-desa tetangga di Kecamatan Tibawa merupakan bentuk silaturahmi yang dicintai Allah.
Ia berpesan agar kemeriahan festival ini dapat mempererat persaudaraan dan mencegah terjadinya perpecahan di tengah-tengah masyarakat.
“Kematian itu semakin dekat di depan mata kita. Maka momentum seperti bulan Muharram ini harus menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Pertolongan Allah akan datang kepada umat yang mampu menjaga persatuan dan satu hati,” pungkas Ustaz Poniman Kadir. (Gorutnews.com)
- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar