Mengenal Bitule, Umbi Tradisional Gorontalo yang Kaya Manfaat
- account_circle Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- visibility 307
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di balik kekayaan hayati Indonesia, terdapat berbagai jenis umbi yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan alternatif. Salah satunya adalah gadung (Dioscorea hispida), yang di daerah Gorontalo dikenal dengan sebutan bitule.
Bitule memiliki bentuk umbi yang tidak beraturan dengan kulit dipenuhi serat atau rambut kasar. Tanaman ini dapat ditemukan di kawasan tertentu dan secara tradisional dikenal masyarakat sebagai salah satu bahan yang dapat diolah menjadi pangan, termasuk keripik gadung.

Ubi Hutan atau Bitule yang belum dikupas. Sumber Foto : Parnawati Aleya, S.Pd
Namun, bitule tidak dapat dikonsumsi sembarangan. Umbi segarnya mengandung senyawa beracun, termasuk dioscorine dan senyawa sianida, sehingga harus melalui proses pengolahan dan detoksifikasi terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Jika diolah secara tidak tepat, kandungan racun tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti pusing, mual, muntah, hingga keracunan yang lebih serius. Karena itu, masyarakat yang mengolah bitule secara tradisional menerapkan tahapan pengolahan tertentu untuk mengurangi kandungan racunnya.

Bitule yang sudah dikupas. Sumber foto : Parnawati Aleya, S.Pd
Secara umum, umbi dikupas dan diiris tipis, kemudian diberi perlakuan menggunakan garam atau abu. Setelah itu, irisan direndam dan dicuci berulang kali, dengan air yang diganti secara berkala atau menggunakan air mengalir.
Setelah melalui proses pengolahan tersebut, irisan bitule biasanya dicuci kembali dan dikeringkan sebelum diolah menjadi makanan. Teknik dan lama pengolahan dapat berbeda antar daerah sehingga diperlukan pengetahuan yang tepat agar hasil olahan aman dikonsumsi.
Selain sebagai bahan pangan setelah melalui proses pengolahan, bitule juga dikenal memiliki pemanfaatan lain. Kandungan alaminya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pestisida nabati tradisional untuk membantu mengendalikan sejumlah hama tanaman.
Bitule menjadi salah satu contoh kekayaan tumbuhan lokal yang memiliki beragam manfaat. Namun, karena mengandung senyawa beracun dalam kondisi mentah, pemanfaatannya sebagai pangan tetap membutuhkan pengetahuan, pengolahan yang tepat, dan kehati-hatian.
Sumber referensi: Literatur botani Dioscorea hispida, teknologi pengolahan pangan lokal Indonesia, serta berbagai penelitian mengenai pemanfaatan gadung sebagai pestisida nabati.







Penulis Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
Ibnu Ishaq, S.Pd.SD., Gr., C.VLD., C.SW adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan pada jurnalistik, penulisan, dan dunia website. Secara mandiri mengelola beberapa situs, di antaranya Tahuda.com, sebagai media berbagi informasi.



Saat ini belum ada komentar