Bulan di Langit Gorontalo Tak Lagi Purnama, Mulai Tampak Meredup
- account_circle Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gorontalo, 29 September 2026 – Warga Gorontalo yang mengamati langit malam ini akan melihat kondisi Bulan yang berbeda dibandingkan beberapa malam sebelumnya. Setelah melewati puncak fase purnama (Harvest Moon) pada dini hari 27 September lalu, Bulan kini resmi memasuki fase cembung mengecil (waning gibbous).
Data astronomi untuk wilayah Gorontalo menunjukkan bahwa malam ini sekitar 90 persen permukaan Bulan masih diterangi oleh Matahari. Angka ini membuat Bulan tetap terlihat cukup besar dan terang di langit malam, meskipun bentuknya tidak lagi bundar sempurna seperti saat puncak purnama. Bulan diperkirakan terbit dari arah timur sekitar pukul 19.48 WITA dan akan menghiasi langit sepanjang malam hingga menjelang pagi.
Kondisi tersebut membuat langit Gorontalo malam ini secara visual mulai berubah dari suasana Harvest Moon. Jika pada malam purnama seluruh piringan Bulan tampak benderang, malam ini sebagian kecil tepi permukaannya mulai terlihat gelap. Bagian bayangan ini akan semakin melebar dari malam ke malam hingga Bulan mencapai fase kuartal ketiga.
Masyarakat di Gorontalo masih dapat menikmati keindahan objek langit ini dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus. Pengamatan visual akan terasa lebih maksimal setelah Bulan naik cukup tinggi di langit, terutama pada malam hari setelah sekitar pukul 20.00 WITA.
Secara astronomis, perubahan tampilan Bulan ini bukan disebabkan karena Bulan kehilangan cahayanya. Bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan sinar Matahari. Perubahan bentuk yang terlihat dari Bumi murni terjadi karena pergeseran posisi relatif Bulan terhadap Bumi dan Matahari dalam siklus orbitnya.
Untuk wilayah Gorontalo sendiri, kondisi langit mulai menggelap total (malam astronomis) sekitar pukul 18.50 WITA, setelah berakhirnya fase senja. Matahari telah terbenam sejak pukul 17.41 WITA, memberikan durasi yang sangat panjang dan ideal bagi para pengamat langit.
Dengan demikian, 29 September bukanlah malam puncak Harvest Moon di Gorontalo. Puncak purnama telah berlalu dan Bulan perlahan bergerak meredup. Meski begitu, dengan iluminasi piringan yang masih dominan di atas 90 persen, Bulan cembung malam ini tetap menjadi objek fotografi dan pengamatan yang sangat memikat di langit Gorontalo.
——————————
Catatan Redaksi/Catatan Foto:
Foto yang disertakan dalam berita ini menampilkan Bulan cembung mengecil (waning gibbous). Visual ini disesuaikan dengan kondisi riil langit Gorontalo malam ini (29 September 2026), di mana bagian tepi piringan Bulan sudah mulai tergerus bayangan (tidak lagi bulat sempurna seperti saat puncak Harvest Moon pada 27 September dini hari).
Penulis Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
Ibnu Ishaq, S.Pd.SD., Gr., C.VLD., C.SW adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan pada jurnalistik, penulisan, dan dunia website. Secara mandiri mengelola beberapa situs, di antaranya Tahuda.com, sebagai media berbagi informasi.



Saat ini belum ada komentar