Gustamin Lawani : Tiga Karakter Manusia dalam Refleksi Hari Kesaktian Pancasila
- account_circle Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dirangkaikan dengan apel perdana bulan Oktober di halaman SDN 7 Anggrek, Desa Ilodulunga, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Kamis, 1 Oktober 2026, menjadi momentum refleksi tentang ketangguhan manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Kepala SDN 4 Anggrek, Gustamin Sun Lawani, memaknai peringatan tersebut melalui sebuah analogi sederhana tentang tiga karakter manusia yang ia ibaratkan sebagai daun, ranting, dan akar.
Kepada awak Gorutnews.com, Gustamin mengatakan Hari Kesaktian Pancasila memiliki makna penting dalam membentuk manusia yang tangguh, memiliki karakter kuat, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Di momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini tentu banyak hal yang menjadi makna dalam pelaksanaannya. Bahwa Pancasila Sakti itu sampai dengan hari ini dan penuh makna untuk membentuk manusia-manusia sakti,” ujar Gustamin.
Menurutnya, manusia daun menggambarkan pribadi yang mudah terbawa keadaan. Seperti daun yang awalnya hijau, kemudian mengering, gugur, dan akhirnya tersapu angin, manusia dalam kategori ini dinilai mudah terpengaruh oleh perubahan dan tekanan kehidupan.
Sementara itu, manusia ranting menggambarkan pribadi yang mampu bertahan, tetapi memiliki batas kekuatan ketika menghadapi beban yang terus bertambah. Ketika tekanan kehidupan semakin berat, ranting pada akhirnya dapat patah.
“Semakin berat beban kehidupan maka semakin banyak masalah dalam hidup dan akhirnya patah semangat,” jelasnya.
Adapun manusia akar, kata Gustamin, merupakan gambaran pribadi yang memiliki keteguhan dan daya tahan kuat. Akar tetap mencengkeram tanah meskipun pohon menghadapi terpaan angin, hujan, serta berbagai tekanan dari lingkungan.
“Inilah manusia sakti yang dihubungkan dengan Pancasila Sakti. Adalah manusia akar ini walau banyak hantaman, tantangan dan risiko, dia tetap berdiri kokoh dan kuat menahan beban,” ungkapnya.
Ia menambahkan, daun dan ranting dapat bergerak ketika diterpa angin, tetapi akar tetap menjadi bagian yang menopang dan menjaga pohon agar tetap berdiri. Analogi tersebut, menurutnya, menggambarkan pentingnya keteguhan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Melalui refleksi tersebut, Gustamin berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan karakter tangguh, teguh, dan berpegang pada nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
Ibnu Ishaq, S.Pd.SD., Gr., C.VLD., C.SW adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan pada jurnalistik, penulisan, dan dunia website. Secara mandiri mengelola beberapa situs, di antaranya Tahuda.com, sebagai media berbagi informasi.



Saat ini belum ada komentar