Suasana Festival Apangi di Desa Datahu, Warga Rela Antre demi Kue Tradisional 10 Muharram
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
- visibility 138
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GORUTNEWS.COM, DATAHU – Ratusan warga memadati Lapangan Mangga Dua, Desa Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Rabu (1/7/2026) malam.
Mereka antusias menghadiri Festival Apangi dan Kue Tradisional yang digelar di kompleks Masjid Al-Bayan tersebut.
Kegiatan tahunan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Besar Islam, yakni 10 Muharram 1448 Hijriah.
Pantauan di lokasi, panitia mendirikan sebanyak 30 tenda kerucut yang difungsikan sebagai stan pameran.
Ada pula satu panggung utama yang menjadi pusat kemeriahan acara.
Setiap stan menyajikan kue apangi khas Gorontalo yang telah dikemas rapi menggunakan mika plastik.
Menariknya, warga yang datang tampak tertib mengantre di pintu masuk area festival untuk mendapatkan kupon penukaran.
Kupon tersebut nantinya ditukarkan secara gratis untuk dapat menikmati kue apangi di stan-stan yang tersedia.
Perayaan religius ini turut dihadiri oleh sejumlah anggota DPRD Kabupaten Gorontalo.
Di antaranya adalah Iskandar Mangopa dan Yunus Dunggio yang merupakan politisi dari Fraksi Partai Golkar.
Iskandar Mangopa bahkan diminta langsung oleh pihak panitia untuk membuka kegiatan tersebut secara resmi.

Kepala Desa Datahu Saipul Hemu
Murni Swadaya Jemaah
Kepala Desa Datahu, Saipul Hemu, menjelaskan bahwa festival ini merupakan agenda rutin tahunan yang digerakkan oleh masyarakat setempat.
“Alhamdulillah berkenaan dengan hari Asyura, 10 Muharram. Ini adalah agenda rutin kita,” kata Saipul saat ditemui Gorutnews.com di lokasi acara.
Ia mengungkapkan, seluruh pembiayaan dan operasional acara murni berasal dari swadaya kelompok jemaah Masjid Al-Bayan.
Pihak panitia sama sekali tidak mengedarkan list sumbangan ataupun proposal ke pihak luar.
“Ini adalah pure di-backup langsung oleh jemaah Al-Bayan itu sendiri. Kebetulan ini sudah memasuki tahun ke delapan,” ungkapnya.
Sempat Mengalami Penundaan
Saipul menambahkan, pelaksanaan festival tahun ini sebenarnya sempat mengalami sedikit pergeseran waktu dari jadwal biasanya.
Hal itu terjadi karena adanya benturan jadwal dengan agenda peringatan di masjid lain.
“Kemarin sedikit ada tabrakan dengan agenda yang ada di Masjid Jami, maka kita di Masjid Al-Bayan agak undur sedikit hingga dilaksanakan pada malam hari ini,” jelas Saipul.
Meski acara puncaknya bergeser, rangkaian doa memperingati 10 Muharram sendiri sudah sukses dilaksanakan di Masjid Al-Bayan.
Di akhir keterangannya, Saipul berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial atau pesta rakyat semata.
Ia ingin seluruh masyarakat, khususnya jemaah Masjid Al-Bayan, dapat mengamalkan nilai-nilai luhur dan makna dari Hari Asyura dalam kehidupan sehari-hari.
“Terima kasih banyak kepada masyarakat Datahu yang telah bekerja sama dengan pemerintah desa hingga acara ini sukses,” pungkasnya.
- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar