Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

Saprin Lamusu dan Sekolah Pitate Kelas Jauh yang Kini Menjadi Negeri

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
  • visibility 198
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah barisan bukit berbatu yang membentang di utara Gorontalo, berdiri sebuah dusun kecil bernama Putiana. Dari pemukiman sebagai jalan Trans Sulawesi penghubung utama dari Kota Gorontalo menuju Sulawesi Tengah tersaji panorama pegunungan yang seakan menari dalam kabut pagi. Udara sejuk memeluk dedaunan, dan sesekali terdengar suara embikan kambing atau lenguhan sapi yang menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan para petani di sana.

Warga Putiana adalah petani ulet yang menggantungkan hidup dari hasil kebun. Namun, di balik keheningan desa ini, tersembunyi satu kisah perjuangan yang mungkin tak akan dikenal banyak orang kisah tentang bagaimana sebuah sekolah bisa hadir di tengah keterisolasian, berawal dari dinding pitate dan atap rumbia, hingga menjadi sekolah negeri yang kini bernama SDN 16 Anggrek.

Kisah ini bermula dari seorang guru honorer bernama Saprin Lamusu, dan sebuah mimpi sederhana: agar anak-anak Putiana tak lagi harus berjalan kaki belasan kilometer ke desa tetangga Popalo di sebelah timur atau Ilangata di sebelah barat demi mengenyam pendidikan dasar.

Tahun 2008 adalah tahun penuh harapan. Pak Saprin dan istrinya, Yulyanti Nusa, pasangan muda dengan semangat mengabdi dan berencana mengabdikan diri di dunia pendidikan. Daripada menganggur di rumah, keduanya memutuskan untuk mendatangi Cabang Dinas Pendidikan Anggrek yang waktu itu dipimpin oleh Ibu Nur Alamri.

“Istri saya ingin mengajar di SMK Popalo. Tapi dari Bu Nur Alamri malah kami disarankan untuk mendirikan sekolah di Putiana saja,” kenang Pak Saprin.

Saran itu, yang bagi orang lain mungkin terasa seperti beban besar, justru diterima dengan tangan terbuka. Meski belum ada gedung, belum ada murid yang pasti, dan bahkan belum ada tanah resmi untuk lokasi sekolah, Pak Saprin dan istrinya mulai mendata anak-anak usia sekolah di sekitar Putiana.

Saat itu, Putiana masih menjadi bagian dari Desa Popalo. Maka setelah melakukan pendataan, Pak Saprin mendatangi Kepala Desa Popalo, Sudirman Pomalingo. Hasil musyawarah sederhana antara keduanya berujung pada satu kesepakatan: sekolah harus berdiri, bagaimana pun caranya.

Warga Putiana, yang sebagian besar adalah petani dengan penghasilan pas-pasan, patungan Rp 25.000 per kepala keluarga. Tak cukup untuk mendirikan bangunan permanen, tetapi cukup untuk membuat rangka sederhana dari kayu, dinding dari anyaman bambu (pitate), dan atap dari daun rumbia.

“Saya bahkan menggadaikan BPKB motor Honda Revo saya waktu itu,” kata Pak Saprin sambil tersenyum getir. Dana hasil gadai itulah yang digunakan untuk mengurus surat izin pendirian sekolah dan juga untuk pembayaran lahan.

Bangunan sekolah dengan ukuran 16×7 itupun pun berdiri di atas lahan. Ruangannya satu, dengan bangku-bangku panjang dari papan yang kaki-kakinya langsung dipatok ke tanah. Lantainya juga tanah. Jika musim hujan datang, halaman sekolah berubah jadi kubangan lumpur.

“Papan tulisnya cuma dari triplek, pakai kapur tulis. Meja guru, kursi guru, sama seperti meja murid, semuanya menancap di tanah,” kenang Nirmawati Asuwadi, salah satu alumni yang pernah merasakan belajar di sekolah itu pada masa awal.

Tahun 2009 datang secercah harapan baru. Bantuan dua ruang kelas dari pemerintah turun untuk SDN 1 Putiana, yang saat itu masih berstatus “kelas jauh” dari SDN 1 Popalo (sekarang SDN 2 Anggrek).

Namun, tantangan kembali muncul. Bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan belum lengkap. Rangka atap harus dibuat dari kayu mangrove, karena hanya itu yang tersedia dan bisa diakses. Tanpa sepengetahuan pihak berwenang, warga mengambil kayu tersebut.

“Sempat hampir dipukul tentara,” ujar Pak Saprin, “karena ternyata mereka tahu kami ambil kayu mangrove tanpa izin.”

Namun setelah menjelaskan bahwa kayu itu untuk pembangunan sekolah, para anggota TNI hanya memberikan teguran keras. “Mereka minta kami jangan ambil lagi tanpa izin. Tapi mereka juga paham perjuangan kami,” lanjutnya.

Pada Oktober 2009, sekolah sederhana itu diresmikan. Meski masih berdinding pitate, Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara saat itu, Indra Yasin (yang kemudian menjadi Bupati Gorontalo Utara), secara simbolis meresmikan sekolah yang lahir dari gotong royong warga dan keberanian seorang guru honorer.

Namun sekolah itu baru resmi menjadi SD Negeri yang definitif pada tahun 2012, di bawah kepemimpinan kepala sekolah pertama, almarhumah Lihawa Mobonggi. Setelah itu berturut-turut jabatan kepala sekolah diisi oleh almarhum Dauhan Gusasi, Abdul Rajak Rauf, almarhum Lahmudin Pakaya, dan kini Wisnawati Abubakar, S.Pd.

Menariknya, nama “SDN 1 Putiana” kemudian diganti menjadi “SDN 16 Anggrek” seiring reorganisasi nama-nama satuan pendidikan di Gorontalo Utara. Namun bagi warga, nama lamanya tetap hidup dalam ingatan.

“Saya merasa sekolah ini seperti anak sendiri. Lahir dari rahim kegelisahan,” ucapnya pelan.

Tak jarang, Pak Saprin berjalan kaki menyusuri dusun demi mencari anak yang tidak masuk sekolah. “Kadang mereka bantu orang tua di kebun, tapi saya selalu berusaha ajak mereka kembali ke kelas,” tambahnya.

Hingga kini, Pak Saprin masih berstatus sebagai tenaga honorer yang dibayar melalui dana BOS, Tapi itu tak menghalangi semangatnya.

“Saya bukan mengajar karena gaji. Saya mengajar karena anak-anak ini punya hak yang sama untuk belajar,” katanya.

Kini, SDN 16 Anggrek telah memiliki bangunan permanen, guru-guru tetap, dan fasilitas yang jauh lebih baik dibanding 17 tahun lalu. Tapi di balik semua itu, ada satu nama yang tak boleh dilupakan: Saprin Lamusu.

“Saya hanya berharap, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib guru-guru honorer seperti kami. Agar kami bisa terus mengabdi tanpa dihantui rasa khawatir soal masa depan,” tutupnya lirih.

Suara ayam berkokok dari kejauhan mengiringi senyumnya. Di matanya, terpancar kepuasan yang tak bisa diukur dengan nominal: kepuasan karena melihat anak-anak Putiana kini tak lagi berjalan jauh untuk sekolah. Karena mereka sudah punya tempat belajar sendiri berkat tekad, air mata, dan kerja keras seorang guru bernama Saprin Lamusu.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Terpopuler

  • The Best Productivity Tools for Remote Work photo_camera 1

    The Best Productivity Tools for Remote Work

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Buka Festival Apangi Tolotio, Sekda Sugondo Makmur Takjub Warga Gotong Royong Siapkan 15.000 Kue Play Button

    Buka Festival Apangi Tolotio, Sekda Sugondo Makmur Takjub Warga Gotong Royong Siapkan 15.000 Kue

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 64
    • 0Komentar

    GORUTNEWS.COM, GORONTALO – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gorontalo, Sugondo Makmur, memberikan apresiasi tinggi atas suksesnya pelaksanaan Festival Apangi II yang digelar di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Sabtu (4/7/2026). Mewakili Bupati Gorontalo, Sugondo menilai festival ini bukan sekadar ajang pelestarian budaya lokal, melainkan juga wadah nyata untuk memperkuat semangat gotong royong sekaligus syiar Islam dalam momentum […]

  • Babinsa Koramil 1314-03/Sumalata Mendampingi Kelompok Tani Huyula Satu dalam Penanaman Padi

    Babinsa Koramil 1314-03/Sumalata Mendampingi Kelompok Tani Huyula Satu dalam Penanaman Padi

    • calendar_month Senin, 2 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Gorutnews.com – Pada hari ini, Kopda Bakri dari Koramil 1314-03/Sumalata melaksanakan kegiatan pendampingan kepada Kelompok Tani Huyula Satu dalam proses penanaman padi sawah. Kegiatan ini berlangsung di Desa Dulukapa, Kecamatan Sumalata Timur, Kabupaten Gorontalo Utara. Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan di wilayah Koramil 1314-03/Sumalata yang berada di bawah Kodim […]

  • Koramil Atinggola dan Warga Bersinergi Membersihkan Saluran Air Sambut Hari Juang Kartika photo_camera 3

    Koramil Atinggola dan Warga Bersinergi Membersihkan Saluran Air Sambut Hari Juang Kartika

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
    • visibility 90
    • 0Komentar

    GORUTNEWS.COM, Gentuma Raya – Anggota Koramil 1314-02 Atinggola bahu-membahu bersama warga Desa Durian, Kecamatan Gentuma Raya, melaksanakan kegiatan Karya Bakti, Jumat (12/12/2025). Aksi gotong royong ini dilakukan dalam rangka menyambut peringatan Hari Juang TNI Angkatan Darat (AD) tahun 2025. Pembersihan selokan yang sudah lama tertimbun material lumpur menjadi sasaran utama kegiatan pagi itu. Sejak pukul […]

  • SDN 2 Anggrek

    SDN 2 Anggrek Gelar Penutupan Meeting Class dan Penyerahan Rapor Semester Ganjil

    • calendar_month Senin, 23 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Gorutnews.com – SDN 2 Anggrek, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara menggelar acara penutupan kompetisi antar kelas (meeting class) yang dirangkaikan dengan penyerahanbBuku Laporan Pendidikan (BLP) Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2024/2025 pada Senin (23/12/2024). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah ini dihadiri oleh Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Anggrek, H. Usman Kadir, M.Pd dan Pengawas Bina, Hj. […]

  • Dukung Penguatan Ekonomi Desa, Babinsa Kawal Pembangunan KDKMP Titidu

    Dukung Penguatan Ekonomi Desa, Babinsa Kawal Pembangunan KDKMP Titidu

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Pendim
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Babinsa Koramil 1314-01/Kwandang, Praka Melkisedek Djahan, melaksanakan pendampingan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Titidu, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Kamis (29/01/2026). Pendampingan dilakukan pada tahap pekerjaan pemasangan tehel lantai dan pengerjaan atap bangunan. Kehadiran Babinsa di lokasi pembangunan bertujuan memberikan motivasi kepada para pekerja serta memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar. Kegiatan […]

expand_less