Benteng Leiden Kwandang, Jejak Pertahanan VOC di Pesisir Gorontalo Utara
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gorutnews.com – Benteng Leiden merupakan salah satu situs bersejarah di Kabupaten Gorontalo Utara yang menyimpan jejak penting masa kolonial. Situs cagar budaya ini berada di Desa Dambalo, Kecamatan Kwandang, dan oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai Benteng Oranje.
Keberadaan Benteng Leiden tercatat dalam buku Oudheidkundig Jaarboek Derde Serie van Het Bulletin van Den Nederlandschen Oudheidkundigen Bond terbit tahun 1929. Arsip tersebut menyebut Kwandang memiliki dua benteng penting, yaitu Benteng Leiden dan Benteng Kota Mas.
Dalam catatan tahun 1929 dijelaskan bahwa Benteng Leiden berdiri di sebuah bukit di muara Sungai Kwandang. Benteng kecil yang diperkirakan berasal dari tahun 1766 itu masih memperlihatkan sisa dinding, bastion bundar, serta beberapa meriam tua.
Selain buku tahunan tersebut, informasi mengenai Benteng Leiden juga ditemukan dalam laporan perjalanan C.B.H. von Rosenberg tahun 1865, tulisan J.F.G. Riedel tahun 1870, serta laporan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1929.
Terdapat beberapa pendapat mengenai waktu pembangunan benteng ini. Rosenberg menyebut VOC membangunnya sekitar tahun 1730, Riedel mengaitkannya dengan perjanjian tahun 1765, sedangkan laporan tahun 1929 menyebut pembangunan berlangsung pada 1766.
Menurut Riedel, pembangunan Benteng Leiden berkaitan erat dengan Kerajaan Limuto yang menjalin kerja sama dengan VOC Maluku. Raja Bia kemudian memindahkan ibu kota ke Wanengo atau Kwandang dan membangun dua benteng batu sebagai pertahanan.
Pada masa itu, kawasan Laut Sulawesi menjadi jalur pelayaran yang rawan serangan bajak laut dari Tobelo, Mindanao, maupun Bugis. Kehadiran Benteng Leiden berfungsi sebagai pos pertahanan sekaligus pengawasan terhadap aktivitas pelayaran dan perdagangan.
Benteng Leiden menjadi bagian dari strategi VOC dalam menjaga kepentingan ekonomi dan keamanan wilayah Gorontalo. Masa itu merupakan periode penuh gejolak akibat persaingan kekuatan kolonial serta berbagai bentuk perlawanan masyarakat Nusantara.
Ketika mengunjungi Kwandang pada tahun 1863, Rosenberg mencatat bahwa benteng masih memiliki dinding kokoh dengan dua bastion melingkar. Gerbang di sisi barat tetap berdiri, sementara sebagian bangunan menunjukkan sisa plester asli.
Rosenberg juga menjelaskan bahwa benteng dibangun menggunakan batu karang dan batu tebing. Bastion bagian selatan masih dalam kondisi baik serta memiliki lima lubang bidik yang digunakan untuk menempatkan persenjataan pertahanan.
Pada tahun 1818, pemerintah Hindia Belanda kembali mengaktifkan Benteng Leiden sebagai garnisun. Sebanyak seorang sersan dan dua belas prajurit ditempatkan untuk menjaga keamanan kawasan pesisir dan jalur perdagangan di Kwandang.
Namun, keberadaan garnisun tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1832, pos militer dipindahkan ke Sumalata seiring berkembangnya aktivitas pertambangan emas sehingga fungsi Benteng Leiden kembali berkurang.
Memasuki akhir abad ke-18, kebangkrutan VOC turut memengaruhi pemanfaatan Benteng Leiden. Meski demikian, benteng ini tetap menjadi saksi penting sejarah pertahanan, perdagangan, dan dinamika politik kolonial di wilayah Gorontalo Utara.
Kini Benteng Leiden menjadi warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Keberadaannya perlu terus dijaga, dilindungi, dan dilestarikan agar generasi mendatang dapat memahami perjalanan panjang sejarah Gorontalo dan Nusantara.
- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar