Emas di Ujung Cemeti: Menjemput Masa Purnabakti Asniaty Masionu dengan Air Mata dan Doa
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
- visibility 142
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIBAWA –ย Terik matahari di halaman SDN 12 Tibawa pada Sabtu siang (14/02) itu terasa menyengat. Namun, bagi ratusan pasang mata yang berkumpul di bawah tenda bernuansa putih-emas, panasnya cuaca seolah kalah oleh dinginnya suasana hati yang diliputi haru. Hari itu bukan sekadar perayaan Ramah Tamah, melainkan sebuah prosesi pelepasan bagi “Nenek” begitu mereka akrab menyapanya Ibu Asniaty Masionu, S.Pd.
Ibu Asniaty, yang telah mengabdikan diri selama 40 tahun sebagai PNS, resmi memasuki masa purna tugas. Enam tahun terakhir perjalanannya dihabiskan untuk menakhodai SDN 12 Tibawa. Sebuah perjalanan yang ia lukiskan bukan dengan keluhan, melainkan dengan ketabahan menghadapi “ombak” dan “kerikil” kehidupan sekolah.
Filosofi “Cemeti” dan Hati Seorang Ibu
Puncak emosi pecah saat Ibu Asniaty berdiri di panggung utama. Dengan suara yang tetap tegar namun teduh, ia menyampaikan sebuah pesan yang akan terus terngiang di telinga para orang tua dan siswa.
“Khusus untuk anak-anakku yang mungkin pernah Ibu jewer atau pukul, ketahuilah itu bukan karena marah. Saya memegang prinsip bahwa di ujung cemeti guru, ada emas di dalamnya. Tujuannya hanya satu: masa depan kalian yang berharga,” tuturnya disambut isak haru beberapa guru yang hadir.
Bagi Asniaty, ketegasan adalah bentuk cinta yang paling murni. Ia memandang para guru bukan sebagai bawahan, melainkan anak kandung. Ia ingin meninggalkan warisan disiplin, sebuah “emas” yang akan dipanen anak didiknya di masa depan.
Saksi Hidup Ketulusan
Dukungan luar biasa datang dari wali murid. Afni Mandame, yang mewakili orang tua siswa, berdiri dengan lantang memberikan pembelaan terhadap kepemimpinan Asniaty yang selama ini mungkin diterpa berbagai “riak” di luar sana.
“Walaupun banyak hal terjadi di luar, kami orang tua siswa tetap berdiri di sini membela dan mendukung Ibu. Kami tahu apa yang Ibu lakukan adalah demi kebaikan anak-anak kami,” tegas Afni.
Kesaksian serupa datang dari Ibu Vonim Mansur Yasin, S.Pd. (Korwil Pendidikan Tibawa) dan Ibu Nurmila Sarapia, S.Pd, M.Pd. (Ketua K3S). Keduanya mengaku sebagai “produk” asuhan Ibu Asniaty. Bagi mereka, Asniaty adalah kompas dan tempat bertanya di saat arah kebijakan terasa buntu. Panggilan “Nenek” menjadi bukti bahwa batasan birokrasi telah luruh menjadi ikatan keluarga.
Pesan Langit dari Ustaz Farid
Suasana semakin khidmat saat Ustaz Farid Ismail, S.Ag. memberikan tausiyah. Ia mengingatkan bahwa pengabdian horizontal (Hablu Minannas) kepada sesama manusia, seperti yang dilakukan Ibu Asniaty, adalah kunci menuju pintu ampunan Allah.
Ustaz Farid memuji langkah sekolah yang mengedepankan keikhlasan. Ia berpesan agar momen purna tugas ini dibersihkan dari segala dendam. “Buang rasa dendam kepada pemimpin dan guru, karena muara dari saling memaafkan adalah surga sepuas langit dan bumi,” pesannya.
Akhir dari Tugas, Bukan Akhir dari Cinta
Meskipun secara administratif Ibu Asniaty akan meletakkan jabatannya pada 1 Maret mendatang, namun jejak langkahnya telah tertanam dalam di SDN 12 Tibawa. Meja yang dipenuhi bingkisan kado dan buket bunga merah di sudut panggung hanyalah simbol kecil dari rasa terima kasih yang tak terukur.
Isranda Dilemba, S.Pd., mewakili dewan guru, menutup kesan dengan janji bahwa perjuangan mendidik yang telah diteladankan sang kepala sekolah akan terus mereka lanjutkan.
Acara berakhir dengan sesi foto bersama dan jabatan tangan yang erat. Di bawah tenda itu, semua sepakat: Ibu Asniaty boleh purna tugas, namun ia tidak akan pernah purna di hati keluarga besar SDN 12 Tibawa. Seperti pantun yang ia ucapkan, silaturahmi ini akan sepanjang umur yang diberikan Tuhan.








- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar