Nirmawati Aswadi, Jejak Bakti Di Tanah Kelahiran
- account_circle S. Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Senin, 26 Jan 2026
- visibility 208
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUTIANA, Gorutnews.com – Di bawah langit cerah Desa Putiana, aroma kenangan menyeruak di antara langit-langit kelas SDN 16 Anggrek. Bagi Nirmawati Aswadi, gedung sekolah ini bukan sekadar deretan ruang kelas, melainkan tempat di mana mimpi besarnya tentang angka-angka pertama kali bermula.
Senin (26/1/2026), sosok yang akrab disapa Nirma ini kembali ke sekolah tersebut. Namun, bukan sebagai murid berseragam merah-putih seperti tahun 2017 silam. Mahasiswi semester enam Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini datang untuk membagikan ilmu yang sedang ia tekuni di bangku kuliah kepada adik-adik kelasnya di kelas 6.
Suasana kelas mendadak hidup. Nirma dengan cekatan menguraikan rumus-rumus matematika yang bagi sebagian siswa dianggap momok, menjadi penjelasan yang ringan dan menyenangkan. Baginya, pulang ke desa saat libur kuliah bukan berarti berhenti belajar, melainkan saatnya mengabdi.
Di sudut kelas, Safrudin Talib, S.Pd., atau yang akrab disapa Pak Udin, memperhatikan dengan bangga. Ia adalah guru yang membimbing Nirma saat duduk di kelas 6 SD dulu. Ingatannya melayang pada masa ketika Nirma kecil begitu antusias dengan pelajaran logika ini.
“Nirma itu dulu siswa yang sangat pintar. Saya masih ingat betul, kami sering ‘balapan’ mengerjakan soal matematika di papan tulis. Dia dan teman-temannya tidak pernah takut salah, malah tertantang untuk lebih cepat dari gurunya,” kenang Pak Udin sambil tersenyum tipis.
Bagi masyarakat Desa Putiana, Nirma dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Saat masa libur tiba, ia tidak hanya berdiam diri. Nirma aktif dalam kegiatan Remaja Muda desa dan seringkali terlihat di sekolah lamanya, membantu pekerjaan administrasi atau sekadar membantu guru-guru yang dulu mendidiknya.
Dedikasi ini lahir dari rasa syukur. Nirma menyadari bahwa apa yang ia capai saat ini di Universitas Negeri Gorontalo tidak lepas dari fondasi yang diletakkan oleh guru-gurunya di pelosok Gorontalo Utara.
“Saya ingin mereka melihat bahwa matematika itu indah, bukan menakutkan. Saya ingin membayar kembali ilmu yang saya dapatkan di sini dengan cara memotivasi adik-adik agar berani bermimpi tinggi, meski kita berasal dari desa,” ujar Nirma di sela-sela kegiatannya mengajar.
Kehadiran Nirma menjadi bukti nyata bahwa mutiara dari Desa Putiana mampu bersinar di tingkat universitas dan tetap ingat jalan pulang. Ia bukan hanya mengajarkan angka, tetapi juga mengajarkan tentang arti sebuah bakti.
- Penulis: S. Ishaq, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar