Jarak Dekat, Pengabdian Panjang: Findri Bobihu dan SDN 16 Anggrek
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 101
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gorutnews.com – Langkah Findri Bobihu setiap pagi tak pernah jauh dari rumahnya. Sekolah tempatnya mengabdi SDN 16 Anggrek berdiri tepat di samping rumah keluarga, di Desa Putiana, Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara.
Jarak yang dekat itu seolah menjadi simbol perjalanan hidupnya: dari seorang siswi kecil yang dulu belajar di ruang-ruang kelas sederhana, kini ia kembali dengan peran yang berbeda sebagai pendidik.
Findri adalah pemudi desa yang sedang menanti momen wisuda dari Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Gorontalo. Di sela penantian itu, ia memilih mengabdikan diri sebagai tenaga abdi di sekolah yang pernah membesarkannya.
Ketika guru berhalangan hadir, Findri tanpa ragu masuk ke kelas, menggantikan peran mereka, mengajar anak-anak dengan kesabaran dan ketulusan. Di mata murid-muridnya, ia bukan sekadar guru pengganti, tetapi kakak, sahabat, sekaligus teladan.
Ada ironi yang indah dalam perjalanan itu: bangku sekolah yang dulu ia duduki sebagai murid, kini menjadi ruang pengabdiannya sebagai pendidik. SDN 16 Anggrek bukan hanya tempat kerja, tetapi ruang nostalgia, ruang pengabdian, dan ruang pengabdian nilai hidup. Ia kembali bukan membawa seragam siswa, melainkan tanggung jawab dan hati yang penuh dedikasi.
Di luar jam sekolah, Findri tetap bergerak. Dengan penguasaannya terhadap aplikasi Corel Draw, ia membuka jasa pembuatan buku yasinan, undangan cetak dan digital mulai dari khitanan, pembaetan, hingga pernikahan serta usaha percetakan dan fotokopi.
Tangannya bekerja di dunia pendidikan, pikirannya bergerak di dunia teknologi, dan hatinya tetap tertambat pada desa.
Findri Bobihu bukan hanya potret seorang sarjana muda yang menunggu wisuda. Ia adalah gambaran tentang anak desa yang kembali mengabdi, membangun dari tempat ia tumbuh, mengajar di sekolah yang membesarkannya, dan menghidupi mimpi dengan kerja, ilmu, serta ketulusan.
Dalam setiap langkahnya yang pendek dari rumah ke sekolah, tersimpan cerita panjang tentang kepulangan, pengabdian, dan harapan yang tak pernah padam.
- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar