Lailatul-Bara’ah dan Lailatul-Qadar: Ketika Takdir Rezeki, Kelahiran, dan Kematian Ditetapkan
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- visibility 110
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Para malaikat yang bertugas di langit menerima perintah Allah swt. untuk urusan setahun pada satu malam. Mereka diberitahu, “Dalam setahun, kamu harus menunaikan sekian pekerjaan dan sekian keputusan untuk sekian orang. Terdapat riwayat yang berbeda mengenai hal itu, apakah hal itu diturunkan pada malam Lailatul-Qadar atau pada malam Lailatul-Bara-ah (15 Sya’ban). Namun mereka sepakat bahwa daftar manusia yang akan mati pada tahun itu telah diberikan kepada malaikat.
Di dunia, mungkin seseorang sedang sibuk dengan kesenangan dan berbagai hiburan atau bertamasya. Padahal di langit perintah untuk menangkapnya sudah dikeluarkan. Jika keputusan dari Mahkamah Ilahi Yang Mahatinggi sudah diumumkan pada malam itu bahwa dalam setahun ini ia akan menemui kematian, maka tak seorang pun yang dapat membantu untuk melakukan tawar-menawar. Tidak ada rayuan terhadap keputusan tersebut, dan masa kematiannya yang sudah ditetapkan itu tidak dapat diundur atau dimajukan walaupun satu menit.
Dalam menafsirkan surat Ad-Dukhân, Ibnu Abbas r.huma. berkata, “Pada malam Lailatul-Qadar, semua masalah yang akan terjadi dalam setahun itu sudah tercatat di Lauhul-Mahfûzh (kitab takdir yang terpelihara). Kadar rezeki yang akan diturunkan sekian, sekian. Fulan & Pulan akan mati, Fulan dan Fulan akan lahir. Demikian pula kadar hujan yang akan diturunkan. Bahkan telah tercatat dalam daftar bahwa Fulan dan Fulan akan menunaikan haji pada tahun ini.”
Ibnu Abbas r.huma. juga berkata, “Kamu melihat seseorang berjalan-jalan di pasar, padahal namanya sudah tercatat dalam daftar orang yang mati pada tahun ini.” Abu Nadhrah rah.a. berkata, “Pada malam itu, semua tugas malaikat untuk sepanjang tahun telah dibagikan. Semua kebaikan, semua keburukan, rezeki, kematian, murah atau mahalnya harga sepanjang tahun akan diputuskan serta diumumkan.”
Ikrimah rah.a. berkata, “Pada malam Lailatul-Barå-ah (15 Sya’ban), semua hukum (keputusan) untuk sepanjang tahun telah diputuskan dan diserahkan kepada malaikat. Termasuk daftar orang-orang yang akan mati dan orang yang akan berhaji ke tanah suci. Tidak ada pengurangan dan penambahan sedikit pun dari yang telah ditetapkan sepanjang tahun itu.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. dinyatakan bahwa daftar semua orang yang akan mati antara bulan Sya’ban ke Sya’ban berikutnya telah diserahkan (kepada malaikat) beserta ketentuan waktu (ajalnya). Ada orang yang menikah atau melahirkan, padahal namanya sudah ditulis di langit dalam daftar orang yang mati.”
Aisyah r.ha. berkata, “Biasanya, Rasulullah saw. memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, karena pada bulan itulah daftar semua orang yang akan mati sepanjang tahun itu telah disiapkan. Ada orang yang sibuk dalam pesta perkawinan, padahal namanya telah tertulis dalam daftar orang-orang yang mati. Ada yang pergi berhaji, padahal namanya telah terdaftar dalam daftar orang-orang yang mati.
Sebuah hadits lainnya menyebutkan bahwa Aisyah r.ha. bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa beliau memperbanyak puasa dalam bulan Sya’ban. Rasulullah saw. menjawab, “Pada bulan ini ditulis daftar nama semua orang yang akan mati pada tahun itu. Aku ingin agar ketika namaku dicatat dalam daftar itu, aku sedang berpuasa.”
Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa pada malam Nishfu Sya’ban, Allah swt. memberitahukan kepada malaikat maut daftar nama orang yang akan mati pada tahun itu. Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap hari ketika matahari terbit, matahari akan memberi pengumuman, “Beramallah kalian. Hari ini tidak akan datang lagi dalam kehidupanmu (maka hendaknya kebajikanmu pada hari ini tertulis sebanyak mungkin).” Malaikat yang lain berseru, “Wahai orang yang mencari kebaikan, terimalah berita gembira (teruskanlah).” Malaikat yang lain lagi berseru, “Wahai orang yang berdosa, berhentilah dan janganlah mencari sebab kebinasaan bagi dirimu sendiri.” Dua malaikat lainnya mengumumkan, salah satu di antaranya berseru. “Ya Allah, berilah balasan kepada mereka yang menyedekahkan hartanya.” Yang lain berseru, “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.”
Atha’ bin Yasar rah.a. berkata, “Apabila malam Nishfu Sya’ban tiba. maka malaikat maut akan diberi daftar agar diperintahkan mencabut ruh orang yang namanya tercatat di dalam daftar itu sesuai dengan daftar yang ditetapkan. Ada orang yang di sini (di dunia) sibuk menghias rumah, mengadakan pesta perkawinan, membangun rumah, padahal di sana (langit) sudah termasuk dalam daftar orang yang sudah mati.” (Durrul Mantsûr)
Imam Ghazali rah.a. berkata, “Meskipun seorang manusia yang miskin tidak pernah ditimpa musibah kemalangan, kegelisahan, kesusahan, atau ketakutan, dahsyatnya mati, naza’ (dicabut nyawanya) dan kecemasannya sudah cukup untuk menghancurkan segala kelezatannya. Sesungguhnya mati adalah penghancur segala kesenangan dunia. Berfikir mengenai mati saja sudah cukup untuk menghapus kelalaian. Inilah kematian yang sangat mengerikan sehingga memikirkan dan mempersiapkannya saja sudah cukup menyibukkan seseorang. Terutama memikirkan kapan maut akan datang. Seorang ahli hikmah berkata, “Seutas tali yang ada dalam genggaman tangan orang lain tidak diketahui kapan tali itu akan ditariknya.”
Luqman berkata kepada anaknya, “Maut adalah sesuatu yang tidak diketahui kapan datangnya, maka sebelum datang dengan tiba-tiba, siapkanlah untuk menyambutnya.”
Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa bangun untuk beribadah pada lima malam semata-mata karena Allah Subhaanahu wata’ala, maka ia wajib masuk surga, yaitu Lailatut Tarwiyah (malam 8 Dzulhijjah), Lailatul Arafah (malam 9 Dzulhijjah), Lailatun Nahr (malam 10 Dzulhijjah), Lailatul Idul Fitri (malam 1 Syawwal), dan Lailatul Bara’ah (malam 15 Sya’ban).”
- Penulis: admin



Saat ini belum ada komentar