Mengapa Watak Manusia Diibaratkan Lebih Sulit Berubah daripada Gunung?
- account_circle Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap manusia memiliki kecenderungan dan karakter yang memengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif tasawuf, memperbaiki diri bukan sekadar menghilangkan sifat tertentu, melainkan mengarahkan kecenderungan tersebut agar menghasilkan kebaikan.
Watak yang dahulu digunakan untuk keburukan dapat diarahkan menjadi sarana kebaikan. Seseorang yang sebelumnya menggunakan sifatnya untuk menyakiti orang lain, misalnya, dapat belajar menyalurkan sifat tersebut untuk tujuan yang lebih bermanfaat.
Ada ungkapan yang menyebutkan, “Gunung mungkin berpindah tempat, namun watak seseorang mustahil berubah.” Ungkapan ini menggambarkan pandangan bahwa mengubah watak manusia merupakan perkara yang sangat sulit.
Dalam materi ini juga disebutkan sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Jika kalian mendengar ada gunung berpindah tempat, maka percayailah. Namun, jika kalian mendengar watak seseorang berubah, maka janganlah mempercayainya.”
Perkataan tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa perubahan watak seseorang dianggap lebih mustahil daripada berpindahnya gunung dari satu tempat ke tempat lain.
Lantas, apa yang dimaksud para ahli tasawuf dengan memperbaiki watak seseorang? Apakah seseorang harus menghilangkan seluruh sifat yang melekat pada dirinya, atau justru mengarahkan sifat tersebut ke jalan yang benar?
Penjelasannya adalah bahwa yang diubah bukan selalu wataknya, melainkan cara seseorang menyalurkan watak tersebut. Dengan demikian, sifat yang sebelumnya membawa keburukan dapat diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang baik.
Sebagai contoh, seseorang memiliki watak pemarah. Jika para ulama berusaha memperbaiki dirinya melalui mujahadah semata-mata untuk menghilangkan sifat pemarah tersebut, hal itu tentu bukan perkara mudah.
Karena itu, usaha yang perlu dilakukan adalah mengarahkan kemarahan tersebut agar tidak menimbulkan keburukan. Kemarahan yang sebelumnya muncul karena urusan duniawi hingga mendorong seseorang berbuat aniaya dan takabur perlu dikendalikan dan diarahkan secara benar.
Dalam penjelasan tersebut, sifat pemarah yang dahulu digunakan untuk kepentingan pribadi dapat diarahkan menjadi ketegasan dalam menghadapi kemungkaran dan penentangan terhadap perintah Allah Subhaanahu wata‘ala, dengan tetap berpegang pada tuntunan agama.
Gambaran ini dikaitkan dengan perjalanan hidup Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu. Sebelum memeluk Islam, beliau dikenal sangat memusuhi kaum Muslimin.
Namun, setelah beriman kepada Allah Subhaanahu wata‘ala dan Rasul-Nya, ketegasan beliau diarahkan untuk membela Islam dan menghadapi orang-orang yang menentang ajaran agama.
Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya. Setiap kecenderungan dalam diri manusia perlu diarahkan agar tidak menjadi sumber keburukan, tetapi justru menjadi jalan untuk melakukan kebaikan.
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa ungkapan “Allah Subhaanahu wata‘ala mengganti keburukan dengan kebaikan” dalam konteks pembahasan ini dimaknai sebagai perubahan arah penggunaan watak, dari yang sebelumnya membawa keburukan menjadi sarana untuk melakukan kebaikan.
Pada akhirnya, memperbaiki diri merupakan proses untuk mengendalikan dan mengarahkan sifat-sifat yang ada dalam diri agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Setiap sifat perlu ditempatkan secara tepat sehingga mendatangkan manfaat, bukan menimbulkan kerusakan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sumber : Fadhilah Dzikir Hal 414
Penulis Ibnu Ishaq, S.Pd.SD
Ibnu Ishaq, S.Pd.SD., Gr., C.VLD., C.SW adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan pada jurnalistik, penulisan, dan dunia website. Secara mandiri mengelola beberapa situs, di antaranya Tahuda.com, sebagai media berbagi informasi.



Saat ini belum ada komentar