Puasa di 1 Syawal, Lebaran Masih Ramadan? Ini Penjelasannya
- account_circle Ust. Muzakir Panigoro
- calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
- visibility 205
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gorutnews.com – Saat ini, sebagian masyarakat kebingungan menentukan mana yang dianggap berdosa: berpuasa pada 1 Syawal atau berhari raya saat masih Ramadan. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal, sementara sebagian masyarakat yang mengikuti pemerintah masih menjalankan puasa Ramadan. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat tentang sikap yang benar.
Jika dilihat dari keyakinan masing-masing, pihak yang masih berpuasa meyakini bahwa saat ini masih Ramadan. Sementara itu, Muhammadiyah berhari raya berdasarkan hasil perhitungan yang diyakini kebenarannya.
Mayoritas ulama menegaskan bahwa Allah tidak akan menghukum salah satu pihak selama masing-masing memiliki landasan ilmu yang benar serta niat yang tulus dalam beribadah.
Perbedaan ini dapat dipahami melalui prinsip ijtihad, yaitu usaha sungguh-sungguh dalam menetapkan hukum. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang berijtihad tetap mendapat pahala, baik hasilnya benar maupun keliru.
Artinya, selama penetapan dilakukan dengan ilmu, baik melalui pendekatan astronomi maupun fikih, semuanya berada dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT.
Selain itu, terdapat prinsip ulil amri, yaitu ketaatan kepada pemimpin. Masyarakat yang mengikuti pemerintah menjalankan ajaran ini demi menjaga persatuan umat.
Di sisi lain, mereka yang mengikuti Muhammadiyah atau organisasi lain menjalankan prinsip ittiba’, yaitu mengikuti keyakinan ilmiah yang diyakini benar berdasarkan pemahaman agama.
Perbedaan penentuan hari raya termasuk dalam ranah furu’iyah, yaitu cabang dalam ajaran Islam, bukan persoalan pokok akidah yang bersifat mutlak.
Islam sendiri sangat menghargai perbedaan, termasuk yang dipengaruhi oleh faktor geografis. Hal ini juga terlihat pada perbedaan waktu salat antara wilayah barat dan timur.
Yang perlu diwaspadai bukanlah perbedaan tanggal, melainkan sikap berlebihan seperti saling menyalahkan, merasa paling benar, dan memicu perpecahan di tengah umat.
Para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak memutus silaturahmi hanya karena perbedaan hari raya, serta tetap menjaga persatuan dan kebersamaan.
Dengan demikian, perbedaan ini seharusnya disikapi secara bijak, saling menghormati, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat.
- Penulis: Ust. Muzakir Panigoro
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar