Saat Gema Takbiran Mengantar Sang Guru Efendi Wadipalapa Pulang
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- visibility 409
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Obor yang Telah Padam, Cahaya yang Tetap Hidup
Ketua PGRI Cabang Anggrek, Merlina Doke, tak mampu menyembunyikan air matanya yang luruh. “Dalam bekerja beliau tenang, sabar, dan selalu mendahulukan kepentingan anak-anak di sekolah. Beliau adalah teladan yang sesungguhnya,” ujarnya lirih.
Lebih dari tiga dekade, Efendi Wadipalapa berteman dengan kapur, buku, dan senyum anak-anak Desa Hiyalo Oyile. Ia menyaksikan generasi demi generasi tumbuh, berganti dari anak-anak yang belum bisa membaca menjadi manusia-manusia yang berhasil meraih mimpi. Semua itu berkat tangan dingin dan kesabaran seorang Efendi.
Kini, prosesi pemakaman telah usai. Tubuh sang guru pejuang telah bersatu dengan bumi. Buku nilai telah ditutup, dan kapur tulis telah diletakkan untuk selamanya.
Efendi mungkin telah tiada, meninggalkan rumah yang kini sunyi pasca-hari raya. Namun, di dalam dada setiap murid yang pernah diajarnya, di setiap sudut ruang kelas yang pernah ia singgahi, cahaya ilmu yang ia nyalakan akan tetap abadi, menolak untuk padam.
Selamat jalan, Pak Efendi. Dedikasimu telah selesai di dunia, dan tempat terbaik kini menyambutmu.






- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar