Saat Gema Takbiran Mengantar Sang Guru Efendi Wadipalapa Pulang
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- visibility 404
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LIMBOTO BARAT – Udara malam Kelurahan Yosonegoro dipenuhi oleh dua hal yang bertolak belakang: gema takbiran Idul Adha 1447 Hijriah yang bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah, dan isak tangis yang pecah di sebuah rumah duka.
Selasa malam, 26 Mei 2026, ketika seluruh umat Muslim bersiap menyambut hari raya dengan suka cita, dunia pendidikan di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, justru dipaksa kembali berbalut kain hitam.
Efendi Wadipalapa, seorang guru senior yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di depan papan tulis, menghembuskan napas terakhirnya. Ia pulang dalam keheningan pada usia 59 tahun 4 bulan, tepat saat dunia luar sedang mengumandangkan takbir.
Bagi PGRI Kecamatan Anggrek, kepergian Efendi bukan sekadar angka dalam statistik kematian. Ini adalah hantaman ombak duka kedua yang datang terlalu cepat. Belum kering tanah makam Almarhumah Hasnia Lahmudin guru SDN 9 Anggrek yang berpulang pada 21 Mei lalu kini jemari takdir kembali merenggut sosok pelita dari ruang kelas mereka. Hanya dalam hitungan hari, dua pilar pendidikan runtuh.
Duka di Sisi Jenazah
Sejak 31 Maret 1993, langkah kaki Efendi telah menapaki jalan-jalan menuju sekolah. Memulai pengabdiannya di SD Negeri Sibualong hingga Oktober 2021, sebelum akhirnya menghabiskan sisa baktinya di SDN 12 Anggrek, Efendi adalah definisi dari kesetiaan yang sunyi. Ia bukan tipe guru yang mencari panggung atau pujian.

Kepala SDN 12 Anggrek Herman Bunuiyo, S.Pd
“Beliau tidak banyak bicara, tapi pekerjaannya selalu selesai dan penuh tanggung jawab,” kenang Kepala SDN 12 Anggrek Herman Bunuiyo, dengan suara yang berat. “Kami kehilangan sosok yang sangat kami hormati.”
Di antara kerumunan pelayat yang memadati rumah duka, Novi Piyo, salah satu rekan sejawatnya, menatap keranda jenazah dengan mata berkaca-kaca. Kehilangan ini terasa begitu mendadak dan menyesakkan dada.
“Biasanya beliau hadir lebih dulu dan menyapa kami satu per satu di sekolah. Rasanya berat sekali menerima kenyataan ini. Besok-besok, sekolah akan terasa sangat berbeda tanpa kehadiran beliau,” bisik Novi, suaranya tercekat di tenggorokan.
Bagi guru-guru muda, Efendi adalah jangkar. Tempat mereka bertanya ketika kurikulum terasa membingungkan, atau ketika lelah mulai menyergap. Sapaan hangatnya kepada murid-murid di gerbang sekolah kini menjelma menjadi gema kenangan yang menyakitkan untuk kuingat.
Klik nomor halaman untuk melanjutkan membacaย






- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar