Jejak Sejarah dan Lingkungan Pendidikan SDN 16 Anggrek
- account_circle S. Ishaq, S.Pd.SD
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 198
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sebuah lahan berukuran 50 meter x 50 meter di wilayah Putiana, Kecamatan Anggrek, berdirilah SDN 16 Anggrek sekolah yang lahir bukan dari kemewahan fasilitas, tetapi dari kebutuhan mendesak masyarakat akan akses pendidikan dasar. Sekolah ini dibangun pada tahun 2008, bermula sebagai kelas jauh dari SDN 1 Popalo (kini SDN 2 Anggrek), dalam kondisi sarana yang sangat terbatas.
Pada masa awal itu, kepemimpinan sekolah dijalankan secara bertahap oleh Pak Lihawa Mobonggi, kemudian Pak Dauhan Gusasi, dan dilanjutkan oleh Pak Abdul Rajak Rauf. Di bawah kepemimpinan mereka, layanan pendidikan tetap berjalan, meski tanpa status definitif dan dengan keterbatasan infrastruktur.
Proses belajar-mengajar dijalankan oleh para perintis pendidikan. Pak Saprin Lamusu bersama istrinya, Ibu Yulyanti Nusa, menjadi penggerak utama aktivitas pendidikan. Atas kebutuhan tenaga pendidik tambahan, dilakukan perekrutan guru, yakni Ibu Tarli Pomalingo dan Ibu Aryanti Taib, untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan.
Pak Saprin, yang juga merupakan salah satu pendiri SDN 16 Anggrek, mengenang masa-masa awal itu sebagai periode penuh keterbatasan, namun sarat semangat pengabdian.
“Waktu itu kami mulai dari kondisi yang sangat sederhana. Ini masih kelas jauh, fasilitas terbatas, tapi semangatnya besar karena yang utama adalah anak-anak bisa sekolah. Kami bangun perlahan, bertahap, sesuai kemampuan yang ada,” tuturnya.
Menurutnya, sejarah sekolah ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi bagian dari perjalanan hidup para pendirinya.
“Saya terlibat sejak awal, dari masa kelas jauh sampai menjadi sekolah definitif. Jadi apa yang diceritakan ini bukan cerita turun-temurun, tapi pengalaman langsung yang kami jalani sendiri,” tegas Pak Saprin.
Perjalanan panjang itu akhirnya mencapai titik penting pada tahun 2012, ketika sekolah ini resmi berstatus sekolah definitif dengan nama SDN 1 Putiana, yang kemudian dikenal sebagai SDN 16 Anggrek. Pada fase ini, kepemimpinan sekolah berada di tangan Lahmudin Pakaya, S.Pd, yang memimpin penguatan kelembagaan, penataan administrasi, serta sistem pembelajaran formal.
Estafet kepemimpinan kemudian berlanjut kepada Ibu Wisnawati Abubakar, S.Pd, yang hingga kini menjabat sebagai kepala sekolah SDN 16 Anggrek. Di bawah kepemimpinannya, sekolah terus berkembang, baik dalam aspek akademik, manajerial, maupun pembinaan karakter peserta didik.
Kini, SDN 16 Anggrek memiliki empat ruang kelas, satu ruang dewan guru, dan satu unit perpustakaan. Meskipun diawal berdirinya lingkungan fisik sekolah masih dalam bentuk bangunan sederhana dengan material tradisional, aktivitas pendidikan tetap berlangsung hidup, aktif, dan fungsional.
SDN 16 Anggrek tidak sekadar menjadi institusi pendidikan, tetapi simbol perjuangan kolektif masyarakat desa sebuah sekolah yang tumbuh dari keterbatasan, dibangun oleh pengabdian, dan bertahan sebagai ruang harapan bagi generasi muda Putiana. Dari kelas jauh yang sederhana, ia menjelma menjadi sekolah definitif yang terus menanamkan masa depan.




- Penulis: S. Ishaq, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar