Tiga Mahkamah Pengadilan di Hari Kiamat: Keadilan Mutlak Allah SWT
- account_circle S. Ishak, S.Pd.SD
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 115
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Disebutkan dalam suatu riwayat, pada hari Kiamat nanti akan diadakan tiga mahkamah pengadilan dengan ketentuan masing-masing, sebagaimana tercantum dalam kitab Misykât Al-Mashâbîh:
Mahkamah pertama adalah pengadilan yang membahas masalah syirik kepada Allah SWT, keimanan, dan kekufuran. Di sini tidak ada ampunan sedikit pun. Barangsiapa bersalah atau meninggal dalam keadaan bersyirik, maka ia tidak akan diampuni sama sekali. Ini adalah ketetapan mutlak yang tidak dapat diubah.
Mahkamah kedua membahas perkara kezhaliman dan hak-hak antar sesama makhluk Allah. Di sini Allah SWT akan menegakkan keadilan sepenuhnya: setiap hak yang dirampas akan dikembalikan kepada pemiliknya, baik secara langsung maupun melalui perhitungan timbal balik. Segala bentuk kezhaliman antar hamba akan diperiksa dan diselesaikan dengan adil.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa melanggar hak saudaranya baik dalam hal kehormatan, harta, maupun kezhaliman apa saja yang dilakukannya hendaklah ia berusaha memohonkan ampunan darinya selagi masih ada waktu di dunia. Hal ini harus dilakukan sebelum datang hari Kiamat, di mana tidak ada lagi dinar atau dirham sebagai ganti rugi. Semua perhitungan dilakukan dengan pahala dan dosa.
Jika orang yang berbuat zhalim masih memiliki pahala, maka pahalanya akan diambil dan diberikan kepada orang yang dizhaliminya sesuai kadar kezhaliman yang dilakukannya. Namun jika orang yang berbuat zhalim sudah tidak memiliki pahala sama sekali, maka dosa-dosa orang yang dizhaliminya akan dipikulkan kepadanya. Ia akan menanggung dosanya sendiri dan dosa orang lain, sehingga ia akan masuk ke dalam neraka dan tinggal di sana dalam waktu yang lama.”
(HR. Misykât)
Keadilan Allah di hari itu begitu sempurna, hingga tidak hanya berlaku bagi manusia. Dalam hadits lain disebutkan:
“Pada hari Kiamat, hak setiap orang yang dizhalimi pasti akan ditunaikan. Bahkan kambing yang tidak bertanduk, yang pernah dizhalimi oleh kambing bertanduk di dunia, akan diberi hak untuk membalas kezaliman itu di hadapan Allah SWT.”
(HR. Misykât)
Mahkamah ketiga membahas hak-hak Allah SWT sendiri, yaitu kekurangan atau kelalaian hamba dalam menunaikan perintah-perintah yang wajib. Berbeda dengan dua mahkamah sebelumnya, di sini ketentuan sepenuhnya berada di bawah kemuliaan dan rahmat Allah SWT. Allah berhak menuntut pertanggungjawaban atas kelalaian itu, atau berhak pula mengampuninya sepenuhnya atas kehendak-Nya.
Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai siapa orang yang paling bangkrut. Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki harta benda apa pun. Namun Nabi SAW memberikan penjelasan yang jauh lebih mendalam:
“Orang yang paling bangkrut dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari Kiamat dalam keadaan memiliki banyak amal ibadah: banyak shalat, banyak puasa, dan banyak amal kebaikan lainnya. Namun, di dunia ia pernah mencaci maki orang lain, memfitnah, memakan harta orang lain secara tidak sah, atau menyakiti orang lain dengan perbuatan tangannya.
Maka, satu per satu pahala kebaikannya akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang pernah dizhaliminya. Hingga akhirnya semua pahalanya habis, padahal masih banyak orang yang menuntut hak. Saat itu, dosa-dosa orang yang dizhaliminya dipikulkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. Inilah orang yang benar-benar bangkrut.”
(HR. Misykât)
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi Rahimahullah menuturkan gambaran dahsyat suasana hari itu:
“Pada hari Kiamat, ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya, mereka akan berdiri di padang Mahsyar selama tujuh puluh tahun lamanya tanpa ada yang memperhatikan atau memberi pertolongan. Dalam penderitaan yang luar biasa itu, mereka menangis hingga air matanya kering, lalu keluar darah dari kedua matanya. Setelah itu, mereka dipanggil berkumpul, dan malaikat-malaikat turun bergelombang dari langit, masing-masing berdiri dalam barisan yang rapi.”
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Furqân ayat 25–29:
وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنزِيلًا الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
“Dan (ingatlah) hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut putih, dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kekuasaan yang sebenarnya pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan hari itu merupakan hari yang sangat sukar bagi orang-orang kafir.
Dan ingatlah hari ketika orang-orang zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: ‘Alangkah baiknya kalau dahulu aku mengambil jalan yang benar bersama Rasulullah. Wahai, betapa celakanya aku! Alangkah baiknya kalau aku tidak menjadikan si fulan itu sahabat karib. Sesungguhnya ia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah kebenaran itu datang kepadaku. Dan syaitan itu senantiasa mengecewakan manusia.'”
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa pada hari itu Allah SWT berfirman:
“Wahai jin dan manusia! Kalian telah diberi nasihat dan peringatan saat berada di dunia. Hari ini, seluruh amal perbuatanmu akan diperlihatkan dan diperhitungkan. Barangsiapa mendapatkan kebaikan dalam catatannya, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikan, maka ia hanya boleh menyalahkan dirinya sendiri.”
Kemudian Allah SWT memerintahkan neraka Jahannam diperlihatkan kepada manusia. Melihat kedahsyatannya, seluruh makhluk berlutut karena ketakutan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Jâtsiyah ayat 28:
وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً ۚ كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَىٰ إِلَىٰ كِتَابِهَا ۚ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Engkau akan melihat setiap umat berlutut penuh kecemasan, dan semua golongan dipanggil untuk melihat catatan amal mereka. Hari itu kamu sekalian dibalas sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Setelah peradilan selesai dilakukan baik kepada manusia maupun hewan maka kepada hewan-hewan itu dikatakan: “Jadilah kalian tanah.” Maka lenyaplah mereka, dan urusan mereka selesai.
Sedangkan bagi orang-orang kafir dan yang dimasukkan ke dalam neraka, penyesalan yang mendalam akan datang. Mereka berharap seandainya mereka tidak pernah dilahirkan, atau menjadi tanah belaka, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Naba’ ayat 40:
يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
“Alangkah baiknya seandainya aku ini menjadi tanah.”
- Penulis: S. Ishak, S.Pd.SD
- Editor: Redaksi



Saat ini belum ada komentar